OBROLAN KREATIF: MAHASISWA ANTROPOLOGI GELAR DISMAT

Mahasiswa Antropologi Saat Mengikuti Diskusi Matakuliah Antropologi Gender

Denpasar - (24/05) Mahasiswa antropologi yang tergabung dalam Kerabat Mahasiswa Antropologi (Krama) Udayana gelar diskusi kreatif Dismat (Diskusi Matakuliah). Selain Dismat, Kerabat Mahasiswa Antropologi juga sering melakukan kegiatan diskusi lain seperti nonton film bareng yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi seputar film yang terkait dengan isu yang sedang hangat diperbincangkan, seperti multikultural dan kebinekaan.

Hari Priyono ketua panitia Dismat mengungkapkan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka untuk memberikan pemantaban sekaligus pembekalan kepada mahasiswa antropologi dalam menghadapi UAS yang akan berlangsung minggu depan. Lebih dari itu dengan dilaksanakannya kegiatan ini diharapkan juga dapat mempererat hubungan antara dosen dan mahasiswa 

Diskusi mata kuliah kali ini mengangkat tentang Antropologi Gender dengan tema Kekerasan Rumah Tangga Ditinjau Dari Perspektif Budaya. Adapun pembicaranya adalah Dr. Dra. Ni Luh Arjani M. Hum.

Dr. Dra. Ni Luh Arjani M. Hum. Saat memberikan pemaparan diskusi matakuliah Antropologi Gender

Saat pemaparannya ia menjelaskan kekerasan dalam rumah tangga yang sering kali terjadi di Indonesia ini khususnya Bali adalah karena masih kentalnya budaya patriarki. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Sebagai contoh adalah dalam sebuah rumah tangga laki laki atau suami memiliki otoritas penuh terhadap istri, sehingga laki-laki sering menuntut perempuan dan cenderung harus menuruti apa permintaan suami.

Hal tersebut sering kali menjadi faktor utama penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Bila sudah demikian perceraian kerap menjadi pilihan bagi pasangan suami istri yang nantinya juga akan berdampak pada anak.

"Di era modern ini, harusnya hal demikian bisa dihindari dengan adanya kesetaraan gender dan perlahan mulai meninggalkan budaya patriarki . Data menunjukkan dari sekian banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga 90% korbannya adalah perempuan. " tambah Arjani. (Isma)