Jimbaran– Universitas Udayana (Unud) menjadi salah satu tujuan perjalanan global Bike for Peace dalam rangka memperingati 50 tahun perjalanan organisasi perdamaian asal Norwegia tersebut. Kehadiran Bike for Peace di Unud diisi dengan pelaksanaan kuliah tamu bertajuk “Pedalling for Peace: Fifty Years of Dialogue, People to People” yang berlangsung di Ruang Teater Lecture Building, Kampus Jimbaran, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Presiden Bike for Peace Tore Nærland bersama Project Leader Bike for Peace Erik Berge. Kuliah tamu turut dihadiri Rektor Universitas Udayana Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., jajaran Wakil Rektor, pimpinan fakultas dan lembaga, dosen, serta mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Bike for Peace memperkenalkan perjalanan organisasi yang didirikan Tore Nærland di Norwegia pada 1976. Sebagai organisasi kemanusiaan untuk perdamaian, Bike for Peace tidak mewakili pemerintah maupun mengambil posisi dalam konflik. Sejak perjalanan internasional pertamanya di Irlandia Utara pada 1978, organisasi ini telah melakukan ratusan perjalanan perdamaian di lebih dari 125 negara.

Pendekatan Bike for Peace menempatkan dialog antarmasyarakat sebagai salah satu instrumen dalam membangun perdamaian. Organisasi ini mendatangi wilayah yang mengalami konflik, bertemu dengan masyarakat dari berbagai pihak, serta mendukung mereka yang telah bekerja untuk perdamaian.
Sepeda tandem menjadi simbol utama pendekatan tersebut. Dua orang berbagi satu sepeda dan bergerak menuju arah yang sama, dengan masing-masing memiliki peran yang saling melengkapi. Filosofi tersebut menggambarkan pentingnya kepercayaan dan kerja sama antarmanusia untuk dapat bergerak bersama menuju tujuan yang sama.
Perjalanan Bike for Peace selama lima dekade mencakup sejumlah momentum penting dalam sejarah perdamaian dunia. Perjalanan internasional pertama dilakukan di Irlandia Utara pada 1978. Pada 1979, pengalaman di Hiroshima turut mendorong organisasi tersebut memperluas gerakannya pada isu perlucutan senjata nuklir. Sementara pada 1983, warga Amerika Serikat dan Uni Soviet bersepeda menggunakan tandem dari Moskow menuju Washington di tengah ketegangan Perang Dingin.
Bike for Peace juga mengembangkan pendekatan diplomasi masyarakat (citizen diplomacy) atau track two diplomacy, yakni membuka ruang komunikasi antarmasyarakat ketika hubungan resmi antarnegara mengalami keterbatasan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasi dalam menjaga saluran dialog dan mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian dalam perjalanan Bike for Peace tahun ini. Materi yang disampaikan menyoroti pengalaman Indonesia dalam membangun perdamaian dan kerja sama internasional, termasuk Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955, pembentukan zona bebas senjata nuklir di Asia Tenggara melalui Traktat Bangkok, serta langkah Indonesia menandatangani dan meratifikasi Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons.

Rektor Universitas Udayana Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Unud sebagai salah satu tujuan perjalanan Bike for Peace dalam rangkaian perjalanan keliling dunia memperingati 50 tahun organisasi tersebut.
Menurut Rektor, komitmen Bike for Peace dalam mempromosikan perdamaian, dialog, saling pengertian, serta dunia yang bebas dari senjata nuklir memiliki keterkaitan erat dengan peran perguruan tinggi sebagai ruang pertukaran gagasan dan pembentukan generasi masa depan.
“Universitas bukan hanya institusi pendidikan tinggi. Universitas merupakan ruang untuk bertukar gagasan, menghargai perbedaan, dan membentuk pemimpin masa depan yang mampu membangun dunia yang lebih baik,” ujar Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D.
Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa perdamaian tidak sekadar dimaknai sebagai ketiadaan konflik. Perdamaian dibangun melalui pendidikan, dialog lintas budaya, kolaborasi ilmiah, sikap saling menghormati, dan tanggung jawab bersama terhadap kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan keberagaman Indonesia dan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum bagi Universitas Udayana yang baru memasuki babak baru sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Transformasi tersebut memperkuat komitmen Unud untuk menjadi perguruan tinggi yang semakin terlibat dalam jejaring global, tidak hanya melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi, tetapi juga melalui kemitraan internasional dan keterlibatan publik dalam merespons berbagai tantangan global.
Melalui kuliah tamu ini, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D. juga mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menyimak, mengajukan pertanyaan, dan terlibat aktif dalam dialog bersama para delegasi Bike for Peace. Menurutnya, upaya membangun perdamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi internasional, tetapi juga setiap individu, khususnya generasi muda yang akan membentuk masa depan bersama.
Rangkaian perjalanan Bike for Peace tahun 2026 berlangsung pada 1 September hingga 31 Oktober dengan mengunjungi 12 kota di sembilan negara dan empat benua. Denpasar menjadi salah satu kota yang disinggahi, sebelum perjalanan dilanjutkan menuju sejumlah kota di kawasan Asia, Pasifik, dan Amerika Serikat, serta berakhir di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada akhir Oktober. Dalam perjalanan tersebut, Bike for Peace membawa seruan untuk mewujudkan dunia bebas senjata nuklir pada 2045.
Kunjungan Bike for Peace ke Universitas Udayana diharapkan menjadi awal dari hubungan dan kolaborasi berkelanjutan antara Unud dan organisasi perdamaian asal Norwegia tersebut. Pertemuan di Bali diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi jembatan persahabatan antara Indonesia dan Norwegia serta memperkuat komitmen bersama untuk membangun dunia yang damai, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.