Kebutuhan Pengembangan Transportasi Bali yang Berkelanjutan

Kebutuhan Pengembangan Transportasi Bali yang Berkelanjutan

Putu Alit Suthanaya

Bali sebagai destinasi wisata dunia dengan keindahan alam dan daya tarik sosial-budayanya  telah mampu menarik jutaan wisatawan mancanegara maupun domestik untuk berkunjung. Berdasarkan data PT. Angkasa Pura I, jumlah kedatangan wisatawan domestik dan internasional tahun 2016 sebanyak 9.906.437 orang dengan jumlah keberangkatan sebanyak 10.021.806 orang. Tingkat pertumbuhan kedatangan penumpang domestik berdasarkan data 5 tahun terakhir sebesar 9,2%/tahun dan penumpang internasional sebesar 10,19%/tahun. Peningkatan jumlah wisatawan ini diikuti dengan multiplier effect seperti peningkatan jumlah akomodasi wisata, restaurant, kegiatan-kegiatan lainnya penunjang pariwisata serta permukiman. Kian meningkatnya berbagai aktivitas kepariwisataan tersebut berimplikasi pada kian meningkatnya beban lalu lintas pada jaringan jalan khususnya di wilayah Metropolitan Sarbagita.

Perkembangan aglomerasi wilayah Metropolitan Sarbagita terjadi secara alamiah dan tidak terantisipasi sejak awal. Sebagai akibatnya, infrastruktur transportasi yang menjadi back bone pergerakan orang maupun barang tidak terencana dengan baik. Tata guna lahan berkembang lambat namun pasti dan kebutuhan pengembangan infrastruktur yang memerlukan upaya-upaya pembebasan lahan serta biaya yang besar terabaikan. Pola manajemen wilayah dengan konsep otonomi daerah cenderung mengabaikan kebutuhan pengembangan wilayah Metropolitan Sarbagita yang terintegrasi. Sekat-sekat otonomi daerah dengan penonjolan upaya pencapaian pengembangan ekonomi secara parsial telah melemahkan upaya untuk membuat sistem pengelolaan yang terpadu. Saat kita mulai merasakan terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang kian meningkat, baru mulai disadari pentingnya integrasi pengembangan sistem transportasi yang tidak bisa disekat-sekat oleh otonomi daerah dan bersifat jangka pendek. Pengembangan transportasi Bali seharusnya dilandasi oleh konsep pembangunan transportasi yang berkelanjutan (Sustainable Transportation Development).

Dalam konsep pembangunan transportasi yang berkelanjutan, tujuannya adalah "To meet the needs of the present without compromising the ability of the future generation to meet their own needs" (Bruntland, 1987). Kebutuhan pengembangan sistem transportasi bersifat jangka panjang dan memerlukan investasi yang konsisten secara bertahap. Pengembangan sistem transportasi seharusnya dilakukan tidak hanya memikirkan kebutuhan generasi sekarang tetapi juga kebutuhan generasi mendatang. Sebagian besar generasi sekarang menyesali kenapa jalan-jalan di wilayah perkotaan di Bali lebarnya sangat terbatas. Kenapa generasi pendahulu kita tidak menyiapkan infrastruktur yang memadai untuk menunjang kebutuhan pergerakan kita pada saat ini. Penyesalan yang sama juga akan terjadi pada generasi mendatang jika kita sebagai generasi saat ini tidak mampu menyiapkan pondasi-pondasi yang memadai sebagai dasar untuk mendukung kebutuhan pergerakan yang akan terjadi di masa mendatang. Lalu apa yang menjadi kebutuhan generasi mendatang yang mesti kita perhatikan?    

Kebutuhan generasi mendatang dari aspek transportasi adalah untuk menikmati kelancaran pergerakan orang maupun barang yang lebih baik atau setidaknya sama dengan kondisi sekarang. Kebutuhan lainnya yaitu dapat menghirup udara dengan kualitas yang lebih baik atau setidaknya sama dengan kondisi sekarang. Dapat menikmati penggunaan energi yang lebih baik atau setidaknya sama dengan kondisi sekarang. Dapat mempertahankan dan menikmati kehidupan sosial-budaya yang lebih baik atau setidaknya sama dengan kondisi sekarang. Jadi dengan kata lain bahwa kebutuhan generasi mendatang tidak semata-mata untuk memenuhi kepentingan aspek ekonomi, namun juga memerhatikan kualitas lingkungan dan sosial budaya.

Berlandaskan konsep tersebut maka seyogyanya pengembangan transportasi Bali tidak hanya berorientasi ekonomi tetapi juga harus memerhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan sosial-budaya. Terlebih lagi penunjang utama perekonomian Bali adalah sektor pariwisata. Pariwisata Bali berlandaskan keindahan alam dan sosial-budaya. Degradasi lingkungan dan sosial-budaya Bali akibat kesalahan dalam pengembangan infrastruktur transportasi akan berimbas pada pariwisata dan selanjutnya memengaruhi perekonomian Bali.

Dengan kian meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, selain memberikan dampak positif juga dapat memberikan dampak negatif seperti peningkatan kemacetan lalu lintas, konsumsi energi, polusi udara dan kebisingan. Peningkatan kebutuhan pergerakan di masa mendatang akan membutuhkan dukungan infrastruktur transportasi yang memadai yang perlu diantisipasi sejak dini. Generasi mendatang akan dihadapkan pada dua pilihan infrastruktur transportasi darat utama yaitu pembangunan jalan baru (fly over, akibat terbatasnya lahan untuk pengembangan jalan) atau pengembangan sistem angkutan umum massal. Pembangunan jalan cenderung lebih cepat dapat dikerjakan dengan biaya yang relatif lebih murah bila dibandingkan dengan pembangunan sistem angkutan umum massal. Ketika kita terjebak dalam kemacetan yang luar biasa, maka solusi instant dengan biaya lebih murah adalah dengan membangun jalan baru, overpass, underpass, ataupun fly over. Seperti kasus kemacetan Jalan Bypass Ngurah Rai dan Simpang Dewa Ruci. Solusi instant-nya adalah dengan membangun jalan tol dan underpass Simpang Dewa Ruci dengan dukungan penuh dari masyarakat. Ternyata kemacetan terjadi lagi lebih parah pada Simpang Tugu Ngurah Rai, dan solusi instant-nya adalah dengan membangun simpang tak sebidang (underpass). Solusi inipun menjadi harapan masyarakat yang menginginkan dalam waktu cepat bisa mengatasi masalah kemacetan. Tanpa kajian yang mendalam dapat diperkirakan bahwa kemacetan akan merembet ke simpang-simpang berikutnya dan keberadan simpang-simpang tak sebidang tidak dapat dihindari. Mulai terjadi perubahan persepsi masyarakat yang semula menolak keberadaan simpang yang tidak sebidang dan akhirnya bisa menerima. Lalu apakah ketika kemacetan yang luar biasa terjadi kita juga akan menerima keberadaan jalan layang fly over? Ketika fly over macet lagi apakah kita akan membangun fly over- fly over berikutnya?

Pengalaman di kota-kota negara maju menunjukkan bahwa pembangunan jalan akan diikuti oleh induced traffic yaitu kian meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang didukung oleh peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat. Peningkatan penggunaan kendaraan bermotor berarti peningkatan konsumsi energi, polusi udara maupun suara. Dengan kata lain, akan terjadi penurunan kualitas lingkungan yang bertentangan dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Target pengembangan sistem transportasi tidak semata-mata untuk menguraikan kemacetan, tetapi juga meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan sosial budaya. Lalu apa upaya yang bisa kita lakukan untuk melayani pergerakan orang dan barang yang kian meningkat di masa mendatang?   

Newman and Kenworthy (2000) menyatakan bahwa sistem transportasi darat yang ideal dari sudut pandang konsep pembangunan yang berkelanjutan adalah dengan mendistribusikan orang maupun barang dalam jumlah besar dengan menggunakan energi yang seefisien mungkin dan output polusi yang seminimal mungkin. Hal ini dapat dicapai melalui Travel Demand Mangement yaitu mengendalikan kebutuhan pergerakan dengan kendaraan bermotor pribadi dan memindahkannya ke angkutan umum massal. Oleh karena itu, sistem angkutan umum massal yang seharusnya menjadi tulang punggung sistem transportasi darat di Bali beserta berbagai elemen pendukungnya seperti fasilitas pedestrian dan non-motorised transport. Sehingga diharapkan bahwa generasi mendatang dapat melakukan pergerakan yang nyaman dengan kualitas udara yang dihirup masih baik. Pengembangan sistem angkutan umum massal yang dibutuhkan oleh generasi mendatang sudah harus mulai dipersiapkan sejak dini setidaknya trase dan upaya pembebasan lahan koridornya. Sehingga ketika generasi mendatang membutuhkan, pondasinya sudah disiapkan dengan baik.

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: