Rabies dan Daging Anjing

Rabies dan Daging Anjing

I Wayan Suardana

Mengkonsumsi daging anjing banyak dilakukan di beberapa Negara. Di Korea, Vietnam, Tiongkok bahkan Indonesia. Beberapa tempat di Indonesia masih mengkonsumsi daging anjing seperti Manado, Yogyakarta, Solo dan sebagian kecil daerah Bali. Di Jogja misalnya daging anjing dimasak sebagai "sengsu" atau tongseng asu (anjing) sementara di Manado dikenal dengan masakan "RW" dengan nuansa masakan yang dominan rasa pedas, dan beberapa tempat di Bali diolah sebagai masakan "sate". Menurut tabel komposisi pangan Indonesia, dalam 100 gr daging RW anjing mengandung energi sebesar 198 Kkal, protein 24,6 gr, lemak 10,5 gr dan karbohidrat 0,9 gr. Kandungan protein daging anjing malahan lebih tinggi jika dibandingkan dengan daging sapi.

Orang-orang mengkonsumsi daging anjing didasarkan atas beberapa alasan yaitu: daging anjing dipercaya dapat meningkatkan vitalitas pria, sebagai anti radang dan penghangat tubuh, sekalipun semua manfaat tersebut tidak memiliki bukti ilmiah.

Pemberitaan akhir akhir ini hangat membahas daging anjing sebagai sumber penularan penyakit Rabies.  Secara teoritis, virus rabies memang benar bersifat zoonotik yang berarti dapat di tularkan melalui hewan ke manusia. Pada hewan, penyakit ini umum ditemukan pada hewan anjing, kucing, dan kera. Rabies disebabkan oleh lyssa viruses. Virus ini ditularkan ke manusia melalui hewan yang sebelumnya telah terjangkit penyakit ini.

Seseorang dapat terjangkit rabies jika air liur dari hewan rabies tersebut masuk ke tubuhnya melalui gigitan, bahkan melalui cakaran pun bisa jika hewan rabies tersebut sebelumnya telah menjilati kuku-kukunya. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang terjangkit rabies karena luka di tubuhnya terjilat oleh hewan yang terinfeksi.

Peluang penularan virus rabies dari daging ke manusia sangatlah kecil terjadi.  Fenomena ini karena didasarkan atas sifat virus yang hanya dapat hidup dan berkembang pada sel yang masih hidup. Virus menjadi tidak aktif bila terpapar sinar matahari, sinar ultraviolet, pemanasan 1 jam selama 50 menit, pengeringan, dan sangat peka terhadap pelarut alkalis seperti sabun, desinfektan, serta alkohol 70%. Disamping itu, daging anjing sebelum dikonsumai semacam daging RW, tongseng ataupun sate juga telah dipanaskan secara matang.  Adanya pemberitaan seakan virus rabies menular terhadap orang setelah kontak dengan daging asal anjing bisa saja terjadi manakala kontak terjadi pada tahap awal proses perubahan otot menjadi daging. Penularan misalnya sesaat setelah anjing mati,  air liur anjing penderita mengenai luka atau kulit yang terbuka dari si jagal,  atau si jagal tergigit saat memotong anjing. Dalam hal ini, si jagal (pemotong anjing) merupakan orang yang beresiko tertular rabies dalam kaitannya dengan daging anjing. Hasil penelitian pada tahun 2007, terdapat wabah rabies di Ba Vi, Vietnam, sebagai daerah penting untuk perdagangan daging anjing dilaporkan oleh District Department of Animal Health (DAH) dilaporkan bahwa 70% kematian berasal dari gigitan anjing tetapi 30% ditengarai akibat terpapar pada waktu penjagalan atau pemotongan.

Tingginya faktor resiko kontak dengan anjing penderita (anjing masih hidup) untuk tertular rabies juga dibuktikan dengan beberapa hasil penelitian lainnya. Ditemukan faktor kontak dengan anjing penderita rabies (P= 0,000; OR= 12,551; 95% CI= 5,541<OR<28,430),  sebagai komponen terbesar dibawah status vaksinasi (P= 0,000; OR= 19,133; 95% CI=8,015<OR<45,678) yang memberikan  kontribusi terhadap penularan virus rabies. 

Terlepas dari pro dan kontranya, mengkonsumsi daging anjing secara prinsip sangat aman apabila telah dimasak dengan sempurna dari serangan virus rabies, namun akan sangat beresiko bagi si jagal (si pemotong anjing) pada saat persiapan daging sebelum dimasak. Upaya pemberantasan rabies bukan terletak pada pelarangan orang orang untuk mengkonsumsi daging anjing, tetapi pelarangan pemotongan anjing sebagai bahan pangan merupakan titik kritis.


** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: