Mengenal Kelenjar Tiroid (Gondok) dan Penyakitnya

Mengenal Kelenjar Tiroid (Gondok) dan Penyakitnya

Ketut Suastika

Gondok atau dalam bahasa medis disebut tiroid merupakan salah satu kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon tiroid. Kelenjar ini terletak di leher bagian depan tengah, terdiri dari 3 bagian yaitu dua lobus (berbentuk seperti piramid) kanan dan kiri serta ismus  yang terletak di bagian tengah (sebagai jembatan yang menghubungkan kedua lobus). Pada orang normal, besar lobus kelenjar ini tidak melebihi jempol tangan orang yang bersangkutan (Gambar 1).

Gambar 1. Bentuk dan lokasi kelenjar tiroid


Hormon tiroid mempunyai fungsi yang luas dan mempengaruhi berbagai organ di dalam tubuh. Diantaranya adalah terlibat di dalam perkembangan janin mulai di dalam kandungan; mengatur konsumsi oksigen, produksi panas dan pembentukan radikal bebas; efeknya terhadap fungsi jantung, merangsang saraf simpatetik; berpengaruh terhadap fungsi paru; mempunyai efek pembentukan sel darah merah; mempengaruhi fungsi saluran cerna; berperan dalam fungsi tulang, otot dan saraf; berperan dalam metabolism lemak (lipid) dan karbohidrat, dan mempengaruhi kerja hormon lainnya. Begitu luasnya fungsi dan efek hormon tiroid ini, sehingga bila ada kelainan fungsi, baik fungsinya menurun atau meningkat maka menimbulkan berbagai gejala pada tubuh.

Fungsi kelenjar tiroid diatur oleh kelenjar lainnya yaitu kelenjar hipofisis (pituitari) yang terletak di dalam otak. Kelenjar hipofisis ini menghasilkan beberapa hormon yang tujuannya mengatur beberapa kelenjar penghasil hormon lainnya yang ada di tubuh di luar otak. Kelenjar hipofisis yang ada di otak ini dikenal dengan kelenjar yang mengatur fungsi kelenjar yang ada di tubuh lainnya. Ada semacam hirarki atau sumbu antara kelenjar hipofisis dan kelenjar dibawahnya. Contohnya yang terkait dengan kelenjar tiorid adalah seperti ini: kelenjar hipofisis menghasilkan hormon yang disebut thyroid stimulating hormone (disingkat TSH, hormon yang merangsang tiroid). TSH merangsang kelenjar tiroid untuk meningkatkan pengeluaran hormon tiroid oleh kelenjar tiroid dan sekaligus menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. TSH mengatur agar kadar hormon tiroid tetap dalam rentang kadar yang normal di dalam darah. Jika karena sesuatu sebab kadar hormon tiroid turun maka TSH dikeluarkan lebih banyak oleh kelenjar hipofisis dengan harapan merangsang pengeluaran kelenjar tiroid lebih banyak menuju kadar yang normal. Sebaliknya jika karena sesuatu hal, kadar hormon tiroid yang dikeluarkan meningkat, maka kelenjar hiofisis akan menurunkan pengeluaran TSH agar kelenjar tiroid menurunkan pengeluaran hormon tiroid, dengan harapan kadar tiroid di dalam darah tetap dalam batas normal. Ada semacam mekanisme umpan balik antara kelenjar tiroid dan kelenjar hipofisis agar kadar hormon tiroid tetap dalam batas normal di dalam darah (Gambar 2). Secara awam bisa diandaikan antara fungsi gas dan rem (kelenjar hipofisis) dan kecepatan mobil (kelenjar tiroid). Bila jalannya mobil terlalu cepat (kelenjar tiroid terlalu banyak menghasilkan hormon tiroid) maka mobil harus direm (kelenjar hipofisis menurunkan pengeluaran TSH); sebaliknya bila mobil berjalan terlalu lambat (kelenjar tiroid terlalu sedikit mengeluarkan hormon tiroid) maka mobil harus digas (kelenjar hipofisis mengeluarkan hormon TSH lebih banyak). Dengan demikian kecepatan mobil tetap konstan. Begitulah tubuh mengatur kadar hormon, agar kadarnya selalu  normal di dalam tubuh, karena penurunan atau peningkatan kadar hormon di dalam darah akan menyebabkan berbagai penyakit.

Gambar 2. Hubungan kerja kelenjar hipofisis (pituitari) dan kelenjar tiroid.

Dalam praktek medis, untuk menentukan fungsi dan gangguan fungsi kelenjar tiroid diperiksa kadar hormon tiroid dan TSH. Mengapa mesti memeriksa kedua hormon tersebut? Karena kedua hormon tersebut saling terkait (seperti disampaikan diatas) dan untuk menentukan dimana letak kelainan dari fungsi tiroid yang terganggu, apakah di kelenjar tiroidnya sendiri (primer) atau kelainannya terletak di kelenjar hipofisis (sekunder). Hormon tiroid yang ada di dalam darah ada dua yaitu: tiroksin (T4) dan triodo-tironin (T3). Kadar T4 lebih tinggi dari pada T3, dan di dalam darah sebagian T3 berasal dari T4 (istilah medisnya konversi) dan T3 ini yang aktif bekerja di dalam sel. Di dalam darah, sebagian besar hormon tiroid diikat oleh protein, dan sebagian kecil, justru yang aktif, dalam bentuk bebas. Jadi, kalau ingin melihat fungsi kelenjar tiroid maka diperiksa T4 bebas (FT4; F=free) atau T3 bebas (FT3).
Untuk menentukan penyakit kelenjar tiroid, tidak cukup hanya memeriksa kadar hormon tiroid di dalam darah. Diperlukan pemeriksaan untuk melihat anatomis kelenjar tiroid, yaitu pemeriksaan radiologis seperti ultrasonografi (USG) atau bila diperlukan pemeriksaan yang lebih canggih lainnya. Dengan pemeriksaan ini akan diketahui besar dan bentuk kelenjar tiroid. Ada tidaknya penyakit kelenjar tiroid tidak ditentukan oleh besarnya. Ada yang sama sekali tidak tumbuh, ada yang besarnya normal atau membesar. Bentuk kelainan kelenjar tiroid bisa merata (difus), berdungkul padat (nodul, tunggal atau multiple), atau ada cairan di dalamnya (kista) atau komibnasi antara padat dan kista. Dari data kombinasi bentuk dan besar (diketahui dari pemeriksaan USG) dan fungsi (dari pemeriksaan kadar hormon tiroid di dalam darah) kelenjar tiroid ini dapat ditentukan jenis penyakit kelenjar tiroid. Begitu banyak jenis penyakit kelenjar tiroid, pada umumnya orang awam hanya mengetahui bahwa penyakit kelenjar tiroid adalah kekurangan yodium. Naskah berikutnya akan disampaikan berbagai penyakit kelenjar tiroid dan pengobatannya.

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: