Pentingnya Literasi Media pada Generasi Z Pascamillenial

Pentingnya Literasi Media pada Generasi Z Pascamillenial

Ni Made Ras Amanda Gelgel

Setelah Dunia dikejutkan dengan Generasi Milenial atau Generasi Y, kini tumbuh karakteristik baru yakni dikenal dengan Generasi Z. Generasi Z atau pascamillenial ini adalah kelompok muda yang lahir dari rentang tahun 1996 hingga 2010. Menurut tirto,id, saat ini tercatat terdapat 2,5 Miliar orang Generasi Z di seluruh dunia.

Generasi Z dinilai lebih mapan dalam memanfaatkan teknologi informasi. Generasi ini dipandang lebih dapat menghargai keberagaman, lebih toleran dan tidak egois, dan ingin berperan sebagai agen perubahan. Hal ini yang membedakan dengan generasi Y atau generasi millenial yang lahir pada tahun 1977-1995.

Bagaimana ciri dari Generasi Z? tirto.id melakukan riset kepada 1.201 responden selama lima minggu mulai Maret hingga Juni 2017 di Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar. Dari hasil riset yang dirilis tirto.id, Generasi Z di Indonesia memiliki ciri khas atau karakteristik sebagai berikut; hemat, berpikiran terbuka, suka pada bentuk kampanye yang kekinian, asyik dengan teknologi, sanggup berkompromi, mengkehendaki perubahan sosial. Jumlah generasi ini diperkirakan mencapai 34,05% dari total penduduk dunia saat ini, dan pada 2050 akan mencapai 40% dari jumlah penduduk total di dunia.

Dengan karakteristik generasi Z ini, maka generasi Z akan menjadi generasi  yang memegang peranan penting dalam perkembangan Negara Indonesia ini. Pertanyaannya adalah apa yang Negara siapkan untuk mendukung karakteristik generasi Z menjadi generasi emas Bangsa Indonesia. Ada beberapa hal yang dapat dipersiapkan oleh Negara agar generasi ini kemudian tidak menjadi beban namun sumber daya berkualitas. Banyak saluran yang dapat dikembangkan dan dipersiapkan untuk menunjangnya.

Hal yang paling menarik adalah menggalakkan sistem literasi media di generasi Z ini. Generasi ini dikenal sebagai generasi yang lahir bersamaan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Generasi ini hidup dan berkembang berdampingan dengan internet, dan gadget-gadget canggih. 

Karakteristik generasi Z atau pascamillenial yang hidup dengan internet melalui gadget-gadget canggih ini pun mampu menghadirkan kecemasan tersendiri. Salah satu kecemasan itu adalah pengolahan informasi yang generasi ini dapatkan, materi informasi yang mereka hasilkan, dan agenda serta persepsi yang mereka cernakan. Saat Media internet dijadikan tempat atau ruang-ruang publik untuk berpendapat dan berekspresi, maka nilai berita maupun kepentingan pun menjadi deindividual.

Dari pada itu bagaimana generasi ini kemudian menggunakan media sosial dan informasi di internet dengan bijak menjadi keharusan, jangan sampai informasi negative yang didapatkan akan membuat generasi ini menjadi terjebak dan tidak mampu melakukan perubahan. Maka yang diperlukan adalah gerakan literasi media yang komprehensif untuk generasi ini.

Secara umum Literasi media atau melek media adalah   kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Literasi media ditujukan agar audiens sebagai konsumen media termasuk anak-anak menjadi sadar melek tentang cara media dikonstruksi atau dibuat dan diakses.

Gerakan literasi media yang digagas untuk generasi Z adalah gerakan yang komprehensif atau menyeluruh yang dimulai dari tingkat pendidikan sekolah dasar. Generasi Z yang termuda adalah generasi dengan tahun 2010. Generasi Z termuda ini kini duduk di kelas I Sekolah Dasar, dan generasi Z tertua telah menduduki semester 4 hingga 6 di perguruan tinggi. Rentang usia yang lebar ini adalah salah satu alas an perlunya gerakan literasi yang komprehensif dengan metode pendekatan yang beragam.

Apabila ingin lebih ekstrim, pendidikan literasi media ini harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan sekolah dasar. Anak-anak sekolah dasar yang dilarang membawa handphone, sebaiknya bukan dilarang namun dibatasi. Pelarangan dan pembatasan akan membawa dampak yang berbeda. Pelarangan akan menghasilkan pelanggaran-pelanggaran, namun pembatasan akan membantu mereka untuk bijak dalam penggunakan handphone. Itu dari sistem di sekolah. Pendidikan literasi media pun diharapkan menjelma dalam kurikulum, di mana mengajak siswanya untuk lebih cerdas dalam menggunakan media, bagaimana pendidikan moral, sopan dan santun pun tetap diperlukan walau dunia berada dalam genggaman sang siswa.

Hilangnya batasan Negara, waktu dan bahasa dengan internet ini pun diharapkan mampu membangun sikap kritis bukan apatis. Di mana permasalahan dihadapi dengan mencari penyelesaian bukan sibuk saling menyalahkan dan mencari kambing hitamnya.

Pada tingkat pendidikan menengah diharapkan gerakan literasi pada tingkat bukan lagi pemahaman namun juga afektif dan tindak lanjut. Diharapkan pada tingkat ini, generasi ini tidak lagi diperbudak oleh internet atau gadget namun telah menjadikan internet dan gadget untuk melakukan perubahan positif. Di sini telah dapat ditemui bagaimana media sosial kerap kali digunakan untuk menyebarkan informasi-informasi kemanusiaan. Namun diharapkan tidak untuk digunakan menyebarkan berita bohong atau hoax.

Pada tingkat yang lebih tinggi diharapkan media sosial dan internet digunakan sebagai pendukung gerakan-gerakan positif. Di mana media sosial digunakan untuk crowd funding hal-hal yang positif, membentuk pola piker yang baik, mengembangkan sikap toleran dan yang lainnya. Salah satunya akun ketimbang ngemis di Denpasar di mana menggunakan akun instagram untuk mengapresiasi orang yang dengan segala keterbatasannya tetap memilih bekerja dibandingkan mengemis.

Jadi sebagai bangsa yang besar, dengan jumlah pemuda yang besar, maka Indonesia harus mampu merebut kesempatan ini, membangun Generasi Z yang terbaik di dunia. Merdeka!


** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: