Dramaturgi Politik

Dramaturgi Politik

Wahyu Budi Nugroho

Apa itu dramaturgi?
Konsep dramaturgi menjelaskan pada kita bagaimana setiap individu selalu memiliki panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) dalam kesehariannya. Panggung depan adalah arena di mana seseorang melakukan pertunjukan (show), berikut bagaimana ia ingin dinilai oleh orang-orang yang melihatnya. Sebaliknya, panggung belakang adalah keadaan individu sebagaimana adanya, yakni ketika dirinya tak sedang melangsungkan pertunjukan atau tak sedang "melakukan akting". Tanpa disadari, setiap kita sesungguhnya melakukan tindakan itu setiap hari, dari orang biasa hingga mereka yang memiliki status sosial tinggi di masyarakat. Seorang pengemis akan memasang mimik muka menyedihkan agar ia dikasihani, seorang pria akan memberikan gestur tubuh yang simpatik di hadapan wanita yang disukainya, seorang dokter akan menunjukkan laku yang meyakinkan agar dirinya dinilai mampu menyembuhkan, dan lain sebagainya.

Elemen-elemen Dramaturgi
Lebih jauh, terdapat beberapa elemen dalam "permainan" panggung depan dengan panggung belakang ini. Pertama, routines, istilah ini menunjuk pada permainan yang sering kita lakukan setiap hari, bisa dikatakan, routines adalah profesi kita, entah itu pegawai kasir mini market, dosen, dokter, atau yang lainnya. Tegas dan jelasnya, ihwal yang kita lakukan setiap hari dan telah terpola. Kedua, performance, yakni pertunjukan yang kita lakukan dalam routines, siapa pun pihak yang terlibat dalam pertunjukan ini, termasuk orang-orang selain kita, dapat disebut sebagai "partisipan". Ketiga, setting, adalah tempat atau lokasi dilangsungkannya pertunjukan, termasuk di dalamnya adalah instrumen atau alat-alat untuk meyakinkan berlangsungnya pertunjukan. Sebagai misal, ruang klinik dokter, ruang kelas atau ruang dosen; pada ruang-ruang tersebut umumnya terdapat instrumen untuk meyakinkan profesi yang digeluti seseorang.
Selanjutnya, elemen inti dalam dramaturgi, yakni panggung depan dan panggung belakang. Panggung depan terdiri dari appearance 'penampakan' dan manner 'gaya'. Penampakan adalah stimulus yang berfungsi untuk menunjukkan status sosial kita di hadapan orang lain, ketika pertunjukan sedang berlangsung, aktor bertugas mengendalikan kesan-kesan yang disajikannya. Gaya adalah stimulus yang berfungsi mengingatkan peran berikut status sosial yang tengah kita jalani (kita tampakkan). Di samping itu, panggung depan turut menyertakan elemen team 'tim', yakni mereka yang mendukung keaktoran atau penampilan kita. Sebagai misal, seorang dokter atau dosen yang memiliki asisten; pilot yang memiliki co-Pilot atau pramugari yang melayaninya. Adapun panggung belakang adalah tempat ketika aktor beristirahat dari pertunjukannya. Semisal, seorang dokter yang bercanda dengan asisten atau perawat di ruang klinik setelah jam praktek selesai, para dosen yang menunjukkan laku kekanak-kanakkan di ruang prodi setelah mengisi kelas, dan lain sebagainya. Tegas dan jelasnya, para aktor ini akan berusaha menutup akses panggung belakang bagi para penontonnya. Dengan kata lain, apa yang boleh dilihat dan diingat oleh para audiens hanyalah panggung depan dari si aktor.

Dramaturgi dalam Dunia Politik
Tak terkecuali pada berbagai profesi yang kerap kita temui di keseharian, dramaturgi juga ditemui dalam dunia politik, begitu kental malah. Derajat dramaturgi dalam dunia politik bervariasi, dari biasa hingga luar biasa. "Dramaturgi biasa" yang dimaksudkan di sini adalah hal-hal lumrah yang umum dilakukan oleh para politisi. Sebagai misal, menjadi hal yang biasa bagi Cokroaminoto atau seorang Soekarno berlatih di depan cermin sebelum berpidato di hadapan rakyat. Pun, sebagaimana sering saya amati kala menjadi pembicara atau mengikuti seminar yang melibatkan politisi. Umumnya, mereka para politisi enggan hadir melalui belakang panggung untuk menyapa audiens, melainkan dari pintu depan gedung atau ruangan.
Di sini, saya menangkap simbol-simbol yang hendak mereka tunjukkan. Kehadiran mereka dari pintu utama menyiratkan gebrakan, pendatang baru yang memberikan harapan baru: sebuah solusi dan pencerahan. Sementara, rute karpet atau jalan ruangan yang bertempat di tengah dan membelah audiens di sisi kanan maupun kiri seakan menimbulkan kesan bahwa ia bisa merangkul siapa pun, mendamaikan pihak yang bertikai baik kanan maupun kiri; sebentuk penegasan bahwa ialah sang pemimpin yang akan memberi arahan pada kita semua. Tak hanya itu saja, secara semiotik peristiwa, durasi waktu yang diperlukan sang politisi untuk berjalan sedari pintu utama hingga podium atau panel pembicara dapat disebut sebagai "sentris". Artinya, ia sengaja menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian agar bisa dilihat siapa pun, dari audiens belakang hingga depan. Ia memberikan waktu pada kita untuk menghayati siapa dirinya lewat langkah demi langkah jalannya. Dalam momen yang sudah diprediksikan ini, tentu sang politisi telah menyiapkan (baca: merencanakan) penampilannya dari ujung kepala hingga kaki, termasuk bagaimana ayunan kaki dan tangannya ketika melangkah, tatapan mata, caranya melihat atau menoleh ke arah audiens, caranya menyapa, hingga hal-hal sekecil-kecilnya yang seringkali tidak kita pikirkan.
Pada batas-batas tertentu, dramaturgi politik di atas bisa kita anggap wajar dan biasa, sedangkan praktek-praktek dramaturgi politik yang bisa dianggap tak wajar berikut "luar biasa" semisal kita temui pada seorang politisi yang berpura-pura sakit untuk menghindari proses hukum yang menjeratnya. Permainan dramaturgi politisi ini dapat menjadi sangat canggih mengingat bisa dilibatkannya seluruh elemen dramaturgi dalam "pertunjukan sakitnya". Pertama, politisi ini sarat mengendalikan kesan pada banyak orang tentang kepura-puraan sakitnya; setiap orang yang melihatnya harus menyangka bahwa ia benar-benar sedang sakit. Kemudian, manner atau gaya sebagai orang sakit pun dipertontonkan; cara berjalan yang ringkih, kepala yang menunduk seakan menahan pening, suara yang lirih, berikut gestur-gestur yang menunjukkan dirinya tengah sekarat.
Kedua, yang tak kalah menarik adalah keberadaan "tim" untuk mendukung pertunjukan sakit si politisi. Dapat ditebak, pengacara sebagai salah seorang partisipan penting dalam pertunjukan ini akan berbicara dengan gaya bombastis kepada media yang menanyakan kondisi terkini kliennya. Ia akan mendramatisir pertunjukan, menyangatkannya, menggelincirkan kondisi faktual. Dari kode-kode yang ditampilkan ini, kita akan segera mendapati sebuah kesan yang sengaja dibangun: bahwa publik sebaiknya berbelas kasih pada si politisi; media sarat menghentikan berbagai pemberitaan negatif tentang dirinya; bahkan hingga yang terekstrim: kesan bahwa si politisi telah memperoleh hukuman lewat sakit yang dideranya—hukuman dari Tuhan, oleh karenanya akan menjadi bijak bagi publik untuk tidak mengungkit-ngungkit lagi kesalahannya, jaksa mengurangi tuntutannya, hakim meringankan hukumannya, atau bahkan kalau bisa membebaskannya sama sekali.
Di samping pengacara, partisipan lain yang juga bisa terlibat dalam pertunjukan ini adalah anak-istri si politisi, juga para koleganya. Anak dan istri akan menunjukkan mimik sedih dan berat, tak menutup kemungkinan pula menitihkan air mata. Kita bisa menduga, gestur-gestur ini sekadar ditampilkan pada panggung depan, tetapi tidak pada panggung belakang. Begitupun, citra-citra yang disebarkan pada publik sengaja dikelola dan dikendalikan sedemikian rupa. Tidak semua citra kondisi politisi yang sakit ini boleh diakses (entah difoto atau direkam secara audio-visual) oleh khalayak, terutama pers. Katup informasi mengenainya bersifat kuldesak, satu pintu untuk keluar-masuk informasi yang diproduksi, dan sudah tentu, penjaga katup informasi itu adalah orang-orang terdekat si politisi (lingkaran dalam). Hal ini kiranya menunjukkan secara jelas terjadinya proses pengendalian kesan atau manajemen citra.
Tak hanya itu saja, dramaturgi si politisi ini pun bakal kian kentara apabila kita menemui skenario-skenario yang janggal, tampak dibuat-buat, juga sulit diterima akal sehat. Sebagai misal, musibah yang tiba-tiba menimpa si politisi seperti kecelakaan tunggal, diagnosis sakit yang berlebihan di mana hampir seluruh organ vitalnya bermasalah, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, kita pun dapat mencurigai dokter sebagai partisipan baru yang ikut bermain dalam pertunjukan. Sementara, apabila dokter tersebut menolak untuk terlibat dalam permainan ini, ia akan meninggalkan trace 'jejak', umumnya berupa "jejak kecil" untuk ditemukan, ditafsirkan, dan kemudian disadari khalayak bahwa si politisi sedang bersandiwara, sebagai misal ia memasang jarum infus yang salah, memasang peralatan medis yang tak sesuai, dan lain sebagainya. Melalui berbagai uraian singkat di atas, kiranya konsep dramaturgi dapat memperlihatkan secara jelas bagaimana panggung depan dan panggung belakang seorang individu bekerja. Tak hanya itu saja, konsep ini turut berkualifikasi untuk mengkajinya secara sistematis.

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: