Babi Bali Plasma Nutfah yang harus dilestarikan

Babi Bali Plasma Nutfah yang harus dilestarikan

Komang Budaarsa

Bali boleh berbangga, karena pulau ini dianugrahi banyak keunggulan. Ketenaran Bali dalam hal adat dan budaya, tidak terbantahkan lagi.  Namun rupanya tidak sampai di sana.  Bali ternyata juga merupakan pulau kecil yang sangat kaya dengan flora-fauna endemik.  Beberapa diantaranya sangat terkenal, sebut saja salak bali dan  jeruk bali (flora),   jalak bali dan sapi bali (fauna).  Satu lagi fauna endemik aset Bali adalah babi bali.  Babi bali merupakan salah satu plasma nutfah Indonesia yang saat ini hanya ada di Bali.  Keberadaannya terancam punah setelah masuknya babi ras ke Bali.  Kalau tidak diantisipasi,  suatu saat babi bali benar-benar punah.

Babi bali  diduga nenek moyangnya berasal dari China (Sus vitatus). Secara fenotip babi bali ada dua jenis, yaitu yang terdapat di Bali bagian timur, dengan ciri-ciri:  warna bulunya hitam agak kasar, punggungnya melengkung tetapi perutnya tidak sampai menyentuh tanah dan cungurnya agak panjang. Jenis yang hidup di Bali bagian utara, barat, tengah dan selatan mempunyai ciri-ciri: punggungnya melengkung ke bawah (lordosis),  perutnya besar,  ada belang putih di bagian perut dan keempat kakinya, moncong pendek, telinga tegak, tinggi badan  babi dewasa sekitar 54 cm,  panjang badan sekitar 90 cm dan panjang ekor antara 20-25 cm. 

Babi bali induk (bangkung) perutnya sangat turun ke bawah, bahkan bisa menyentuh tanah bila berdiri.  Puting susunya antara 12-14, bisa melahirkan mencapai 12 ekor sekali beranak.  Babi inilah yang lebih dikenal sebagai babi bali. Jadi,  ciri khas babi bali pada punggungnya yang melengkung ke bawah  (lordosis). Berbeda dengan babi ras (Landracse, duroc, largewhite, dll), punggungnya melengkung ke atas seperti busur panah.

Babi bali secara genetik pertumbuhannya lebih lambat dibanding dengan babi ras impor. Memerlukan waktu 10-12 bulan untuk mencapai berat badan 90-100 kg, sedangkan babi ras impor hanya 5-6 bulan.  Babi ras impor inilah yang menjadi pesaing berat babi bali. Peternak tidak salah.  Mereka pasti ingin cepat menjual babi, dan mendapat untung.  Syukur,  di beberapa lokasi di Bali peternak masih bertahan memelihara babi bali.

Keunggulan Babi Bali

Di balik kekurangannya, babi bali  mempunyai beberapa kelebihan. Diantaranya, mampu bertahan hidup walau diberi makan seadanya,  lebih tahan terhadap berbagai penyakit, lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungan, terutama lingkungan yang ekstrim,  lebih sedikit membutuhkan air, sehingga sangat cocok   dipelihara di daerah  kering. 

Saat ini populasi  babi bali di Bali memang lebih banyak menyebar di daerah-daerah kering antara lain Kecamatan Kubu Karangasem, Kecamatan Nusa Penida,  Klungkung dan Kecamatan Gerokgak   Buleleng.  Sebagian besar peternak  yang memelihara babi bali  adalah mereka yang kurang mampu.  Jangankan membeli konsentrat untuk babi, membeli beras untuk makan sehari-hari saja mereka susah.

Di Desa Tianyar Barat, Karangasem, masih banyak orang memelihara babi bali.  Daerah tersebut memang kondisinya kering.   Para peternak memberi istilah babi bali dadi ajak lacur (bisa diajak menderita).  Maksudnya, babi bali tidak harus diberikan konsentrat,  sebagaimana babi Landrace atau babi ras lain.  Diberikan pakan seadanya, umumnya limbah dapur,  masih mampu bertahan hidup.

Kelebihan babi bali tersebut harusnya bisa dijadikan pilihan ketika pemerintah ingin membantu KK miskin.  Program bedah rumah Pemerintah Provinsi Bali yang disertai bantuan ternak babi untuk daerah kering,  sebaiknya memilih babi bali.  Alasannya, sudah beradaptasi dengan lingkungan kering.  Dengan demikian upaya pelestarian secara tidak lansung sudah dilakukan.

Harus dilestarikan

Saat ini populasi babi bali terus menurun. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bali, populasi babi bali tahun 2013 sebanyak 253.959 ekor.  Pada tahun 2012 populasinya 284.531 ekor.  Mengalami  penurunan 10,74%.  Penurunan paling drastis pada  induk.  Padahal induk itulah yang melahirkan bibit-bibit baru.  Jika penurunan populasi  terus terjadi, dikhawatirkan suatu saat babi bali akan punah.

Kepunahan  spesies hewan pasti diawali dengan penurunan populasi. Satu contoh, Jalak bali (Leucopsar  rothschildi ) saat ini  diambang kepunahan, akibat diperdagangkan secara gelap. Contoh lain, badak (Rhinoceros  sondaicus dan Dicerorhinus  sumatrensis),  buaya muara (Crocodilus  porosus). Yang paling menyedihkan,   harimau loreng bali (Panthera tigris  balica)  dinyatakan sudah punah.

Indonesia menempati urutan ke dua di dunia  dalam hal  keragaman flora dan fauna.  Urutan pertama  adalah Brasil,  sebuah negara yang memiliki terkaya keragaman hayatinya yang tersimpan  di hutan Amazon yang terkenal itu.  Namun, dalam hal spesies endemis (asli), Indonesia paling kaya.

Indonesia memiliki 325.350  jenis flora-fauna yang tersebar di 17.000 pulau.  Kekayaan yang sungguh luar biasa.  Kekayaan yang sangat hebat.  Unggul  dibandingkan negara lain mana pun.

Unggul bukanlah perkara penting.  Jauh lebih penting adalah  bagaimana melestarikan dan mengembangkan keragaman hayati tersebut untuk kesejahteraan rakyat.  Kenyataannya, laju kepunahan flora-fauna  di Indonesia juga sangat tinggi.  Babi bali tidak boleh  bernasib sama dengan harimau bali, punah.  Untuk itu upaya pelestarian mesti dilakukan.

Lebih Enak untuk Babi Guling

Babi bali lebih enek untuk babi guling, mengapa?  Babi bali termasuk tipe lemak.  Kandungan lemak di bawah kulit babi bali lebih banyak, dibandingkan babi ras. Secara fisik lebih lembek, karena lebih banyak tersusun dari asam-asam lemak tak jenuh. Terutama asam lemak linoleat dan oleat, yang memberi citarasa khusus. Keberadaan lemak akan banyak mempengaruhi flavor daging.

Lemak punggung dan kulit babi bali lebih tebal dari babi ras. Ini yang menjadi kelebihan untuk babi guling, karena kulit babi guling akan lebih tebal dan lebih empuk. Bantalan lemak di bawah kulit ketika panas akan cair, melarutkan kolagen menjadi gelatin yang akan meningkatkan keempukan daging.
Daging yang empuk menjadi tambah lesat karena saat babi diguling diolesi dengan garam bercampur kunyit yang sudah diulek.   Melelehnya lemak di bawah kulit   membuat garam meresap ke dalam daging dan keluar melumuri kulit, memberi aroma spesifik, lebih gurih.  Kulit guling adalah bagian dari babi guling yang paling disukai oleh konsumen.

Kegurihan juga dipengaruhi oleh kandungan nutrien dalam pakan. Bahan pakan babi bali sangat bervasiasi.  Sebagian besar terdiri dari hijauan, kaya vitamin dan mineral. Sering juga dicampur dengan air cucian beras (banyu), ditambah  limbah dapur lainnya. Air cucian beras mengandung vit B, khususnya vitamin B12, yang kesemuanya itu sangat mungkin mempengaruhi citarasa daging.

Rasa babi guling babi bali diakui lebih enak oleh Ibu Ayu, penjual nasi babi guling di Pasar Menanga, Karangasem yang sudah 10 tahun berjualan.  Bu Ayu  tetap memilih babi bali untuk babi guling.  Alasannya,   lebih nyangluh (gurih) dan kulitnya lebih tebal, sehingga sampai sore pun tidak ngales.

Babi guling di Bali sangat populer. Awalnya untuk sesaji,  bagian dari persembahan, pada upacara tertentu (banten bebangkit) harus memakai babi guling. tetapi belakangan  sudah menjadi  kuliner khas Bali yang sangat terkenal. Permasalahannya, babi bali semakin langka.  Langkah yang bijak adalah melestarikannya, sehingga babi bali asli (BBA) tidak punah.



** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: