Mengapa Pengungsi Gunung Agung Membludak?

Mengapa Pengungsi Gunung Agung Membludak?

Wahyu Budi Nugroho

Awalnya, pengungsi daerah rawan bencana Gunung Agung diperkirakan sekitar 70.000 jiwa, namun jumlah ini kemudian membludak nyaris dua kali lipatnya, lebih malah. Mungkin sebagian kita bertanya, apa yang menyebabkan pengungsi Gunung Agung melonjak drastis. Boleh jadi, ini dikarenakan pemberitaan media lokal yang cenderung berlebihan dan "kontraproduktif" mengenai Gunung Agung. Tentu, pemberitaan seputar kondisi terkini Gunung Agung sangat kita perlukan, hanya saja, seringkali pemberitaan tersebut bercampur dengan "pemberitaan-pemberitaan sekunder" yang sesungguhnya tak kita perlukan dan justru kian meresahkan.
Sebagai misal, pemberitaan mengenai seseorang yang "kerauhan" (baca: kesurupan) dan meracau mengenai Gunung Agung; bahwa letusan ini adalah balasan karena mulai banyak pihak berlaku tak senonoh di Gunung Agung, pendaki-pendaki yang mengotori gunung, dan lain sejenisnya. Bahkan, ia turut mengatakan jika Gunung Agung akan meletus pada pukul delapan malam, hanya saja tak bisa dipastikan kapan. Citra (video) dari orang kerauhan ini dieksploitasi terus-menerus oleh media lokal, bahkan beredar luas di media sosial, berikut dikonsumsi oleh banyak pihak. Pemberitaan semacam ini memunculkan kesan seolah meletusnya Gunung Agung adalah "hukuman" dari Tuhan, yang dengan demikian justru kian meresahkan, bahkan menakuti warga.
Di samping itu, terdapat pula pemberitaan mengenai tumbangnya pohon keramat di Pura Goa Lawah dibarengi suara ledakan keras yang kemudian segera dikaitkan dengan kondisi terkini Gunung Agung. Kesan yang dibangun dari pemberitaan ini sesungguhnya cukup negatif, seakan metafora "tumbangnya pohon" dan "suara ledakan keras" merepresentasi hal buruk yang bakal terjadi. Lalu, ditemui pula pemberitaan mengenai monyet putih yang turun dari Gunung Agung. Di berbagai kawasan gunung vulkanik tanah air, migrasi hewan-hewan ke kaki gunung, bahkan hingga ke perkampungan warga memang menjadi pertanda lumrah kian mengkhawatirkannya kondisi gunung vulkanik. Hanya saja, pemberitaan turunnya monyet putih di Gunung Agung seolah dikemas dalam nuansa mistis yang begitu kental, pun menjadi simbol tertentu guna mewakili sesuatu "yang lebih besar" di baliknya.
Terkait berbagai pemberitaan di atas, media lokal terutama, seyogianya bisa lebih bijak dalam mengangkat dan mengemas berita. Dalam kondisi yang tengah dirundung serba keprihatinan ini, menjadi sangat TIDAK ETIS dan tak bertanggung jawab bila media memanfaatkannya untuk mendongkrak rating dengan membuat berita-berita bombastis, mengusik, meresahkan, bahkan cenderung menakuti masyarakat luas, terlebih jika semua itu dilatarbelakangi motivasi ekonomis semata. Di samping terus mendekatkan diri kepada Tuhan, tentunya rasionalisasi masyarakat dalam menghadapi bencana juga diperlukan. Sudah saatnya kita berkata: good news is a good news, bad news is a bad news; bukannya bad news is a good news(!).

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: