Mengenal Kelenjar Tiroid (Gondok) dan Penyakitnya

Mengenal Kelenjar Tiroid (Gondok) dan Penyakitnya

Ketut Suastika

B. Penyakit Kelenjar Tiroid

Jenis penyakit kelenjar tiroid cukup banyak. Dilihat dari segi fungsinya, ada yang fungsinya menurun (hipotiroidisme), normal (eutiroidisme) atau meningkat (hipertiroidisme). Kalau ditinjau dari segi anatomisnya, bisa tidak membesar, membesar ringan atau membesar berat; ada yang membesar merata, ada yang berdungkul (nodul). Yang berdungkul (nodul) ada yang tunggal (singel) ada yang jamak (multipel); ada yang padat ada yang di dalamnya ada cairan (disebut kista). Dari kombinasi fungsi dan anatomis disertai gejala lainnya baru dapat ditentukan jenis (diagnosis) penyakit kelenjar tiroid.
Seperti telah disampaikan sebelumnya, untuk menilai fungsi kelenjar tiroid dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan hormon tiroid (FT4) dan hormon TSH. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah perubahan fungsi tiroid disebabkan karena kelainan di kelanjar tiroidnya (primer) atau di kelenjar hipofisis (yang ada di otak, mengatur fungsi tiroid, disebut sekunder). Untuk menentukan anatomis kelanjar tiroid dapat dilakukan mulai dari pemeriksaan dengan tangan, pemeriksaan ultrasonografi, sintigrafi, atau kalau diperlukan CT scan atau MRI. Untuk memastikan penyebab penyakit kelenjar tiroid sering dibutuhkan pemeriksaan lainnya seperti pemeriksaan laboratorium autoantibodi dan pemeriksaan sitologi atau patologi (bahannya dari aspirasi) terutama jika ada kecurigaan terhadap keganasan.

Gambar 1. Untuk menentukan kelainan anatomis kelenjar tiroid perlu pemeriksaan ultrasonografi.

B.1. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah menurunnya fungsi kelenjar tiroid, hormon tiroid yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid ke dalam sirkulasi darah lebih rendah dari rentang kadar normal. Penyakit kelenjar tiroid yang paling sering penyebabnya adalah keradangan kronis (Tiroiditis Hashimoto), pasca ablasi (pasca operasi atau pengobatan dengan radioaktif yodium, biasanya untuk mengobati hipertiroidisme yang bandel), gondok endemik (akibat kekurangan yodium), atau penyakit bawaan dimana tidak tumbuhnya kelenjar tiroid pada bayi baru lahir. Pada umumnya penderita hipotiroid akan mengalami kekurangan hormon tiroid sepanjang hidupnya. Ada juga penyakit tiroid sejenis keradangan atau tiroiditis yang dalam perjalanannya akan sembuh sendiri.
Gejala hipotiroidisme sangat tergantung dari berat-ringannya penyakit; dari mulai tidak jelas gejalanya sampai dengan gejala yang nyata dan berat. Diantaranya yaitu: mudah lelah, tidak tahan dingin, daya pikir lambat, susah buang air besar, depresi, tambah gemuk, kaku pada betis, gangguan menstruasi dan infertilitas, saraf di pergelangan tangan terjepit (carpal tunnel syndrome), gangguan pendengaran, kulit kering-tipis dan pucat, kesadaran bisa menurun, bengkak dibawah mata, denyut jantung lambat (bradikardia), refleks tendon melambat, wajah kasar, efusi pleura (adanya cairan di ruang selaput paru), efusi perikardial (ada cairan di ruang selaput jantung), cairan bebas di perut (asites), bengkak di tungkai, kadar natrium darah turun, kadar kolesterol darah meningkat, sampai tidak sadar (koma miskedema). Pada penyakit tiroid primer pada pemeriksaan laboratorium akan ditemukan menurunnya hormon tiroid (FT4) dan meningkatnya hormon TSH.
Karena di dalam tubuh terjadi kekurangan hormon tiroid, maka secara sederhana dapat dikatakan pengobatan hipotiroidisme adalah mengganti hormon tiorid yang kurang dari luar (berupa tablet yang mengandung L-tiroksin). Dosis obat L-tiroksin dimulai dengan dosis kecil yaitu 50-75 mikrogram perhari. Bagi mereka yang mempunyai penyakit jantung, dosis obat dimulai dengan yang lebih kecil, yaitu 12,5-25 mikrogram perhari. Dosis obat dapat dinaikkan jika dianggap belum cukup, dengan cara memantau kadar hormon TSH antara 4-6 minggu setelah pengobatan dimulai. Jika dosisnya sudah cukup, yang ditunjukkan dengan kadar TSH sudah normal dan stabil, maka obat L-tiroksin diteruskan dengan dosis terakhir disertai pemantauan kadar TSH cukup sekali dalam setahun.  

B.2. Hipertiroidisme
Hipertiroidisme adalah keadaan dimana fungsi kelenjar tiroid meningkat, kelenjar tiroid mengeluarkan hormon tiroid yang berlebihan ke dalam peredaran darah. Penyebab yang paling sering diantaranya adalah Penyakit Graves dan adenoma atau nodul tiroid multiple toksik.
Gejala hipertiroidisme adalah boleh dikatakan kebalikan dari gejala hipotiroidisme; diantaranya adalah: hiperaktif, iritabilitas (gelisah), susah tidur, tidak tahan panas, berkeringat berlebih, berdebar, mudah lelah, sesak napas, menurunnya berat badan yang drastis walaupun jumlah makannya bertambah, gatal pada kulit, frekuensi buang air besar bertambah, haus dan ingin  minum, amenore (tidak menstruasi) dan kehilangan nafsu birahi. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: denyut jantung meningkat bahkan tidak teratur (takhikardia atau fibrilasi atrium), tangan gemetar, peningkatan gerakan otot dan refleks, kulit hangat dan basah, telapak tangan merah, gangguan kuku, rambut rontok, kelemahan dan kehilangan masa otot, dan yang relatif jarang adalah payah jantung, kelumpuhan berkala, dan gangguan jiwa. Khusus untuk Penyakit Graves, ditemukan gejala mata melotot (eksoftamos) dan ganggu kulit (dermopati) dan tulang (akropakhi). Penyakit Garves ini cukup banyak ditemukan dan sering kali menyebabkan masalah  mata baik dari aspek medik maupun aspek kosmetik. Pada pemeriksaan laboratorium, pada penyakit hipertiroid primer seperti jenis yang diutarakan diatas, ditemukan peningkatan hormon tiroid (FT4) dan penurunan hormon TSH.
Pengobatan penderita dengan hipertiroidisme ini ada 3 cara, yaitu: dengan obat anti tiroid, radioaktif yodium, dan pembedahan atau operasi. Tentu ketiga cara pengobatan ini ada untung ruginya dan semuanya ada indikasi tersendiri tergantung dari jenis penyakit kelenjar tiroid. Yang paling paham cara pengobatan mana yang  terbaik bagi penderita adalah dokter. Memang sebelum memutuskan cara pengobatan yang akan dilaksanakan harus diperhatikan secara rinci dari aspek jenis penyakitnya, beratnya gejala, ada tidaknya mata melotot (eksoftamos), kadar autoantibodinya, ketersediaan sarana dan dokter bedah yang memadai. Dokter wajib memberikan pertimbangan pengobatan yang akan dipilih oleh penderita setelah menjelaskannya secara rinci kepada penderita dengan segala keuntungan dan kerugiannya. Secara umum dapat dikatakan pilihan pertama adalah pengobatan obat anti tiroid atau radioaktif yodium (ini hanya tersedia di beberapa rumah sakit besar di Indonesia); sedangkan pembedahan menjadi pilihan jika penyakit kelenjar tiroid berupa nodul baik tunggal maupun multiple atau adanya kecurigaan tumor ganas, atau gagal dengan terapi obat anti tiroid.
Gambar 2. Nodul tunggal tiroid, bisa disebabkan oleh tumor jinak (adenoma) atau tumor ganas


Gambar 3. Kelainan mata pada Penyakit Graves. Eksoftalmos kedua mata disertai tertariknya kelopak mata.
B.3. Gondok Endemik
Beberapa tahun silam jika kita pergi ke daerah pegunungan seperti di daerah Kintamani, Bali, banyak penduduk terutama wanita yang mempunyai pembesaran kelenjar tiroid atau gondok yang cukup besar. Seolah-olah gondok yang besar dianggap biasa atau bukan penyakit karena saking banyaknya penduduk yang menderita pembesaran kelenjar tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid yang terutama banyak ditemukan di daerah dimana makanan dan airnya kekurangan yodium ini disebut dengan "gondok endemik".
Besarnya gondok sangat tergantung dari beratnya kekurangan yodium. Gondok yang membesar ini disebabkan karena tubuh kekurangan yodium, sebagai bahan baku hormon tiroid, sehingga tubuh berusaha membesarkan kelenjar tiroid dengan harapan produksi hormon tiroid tetap dalam batas normal. Secara umum penyakit yang disebabkan oleh kekurangan yodium ini  disebut "gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY)". Berdasarkan usia terkenanya dan beratnya kekurangan yodium, gejala penyakit ini sangat bervariasi dari sangat ringan sampai berat. Jika kekurangan yodium berat terjadi pada masa dalam kandungan dan bayi, maka pertumbuhan bayi akan terhambat dan bahkan terjadi gangguan saraf, yang disebut kretin (cebol dan gangguan saraf). Jika terjadi pada masa sekolah dan ringan mungkin hanya ditemukan sedikit pembesaran kelenjar tiroid. Jika kekurangan yodium tanpa pengobatan yang memadai dan berlanjut sampai tua, bisa ditemukan pembesaran gondok yang cukup besar. Inilah yang sering kita temukan di daerah pegunungan di masa lalu. Di Bali sangat bersukur bahwa saat ini sudah jarang ditemukan kekurangan yodium dan gondok endemik.
Keberhasilan pemerintah memalui fortifikasi yodium di dalam garam (garam beryodium), suplemen melalui kapsul, dan dulu pernah ada dalam bentuk suntikan (lipiodol), cukup berhasil dalam menanggulangi gondok endemik ini. Kecukupan akan garam beryodium terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan dan ada riwayat keturunan mempunyai gondok endemik, merupakan cara untuk mencegah terjadinya gondok endemik. Secara fungsi, biasanya masih normal (eutiroidisme), namun karena besarnya gondok yang bisa menggangu daerah leher dan sekitarnya atau menekan saluran napas, dan sekaligus juga untuk keperluan kosmetik, pembedahan dapat dipertimbangkan bagi mereka dengan gondok endemik yang besar. Bagi mereka misalnya remaja dengan gondok yang relatif kecil, maka pemberian garam yodium dan hormon tiroksin dapat memperkecil atau menormalkan besarnya gondok.
Gambar 4. Gondok endemik (kiri) dan kretin pada bayi (kanan)

B.4 Saran
Anjuran kepada siapapun, jika ada benjolan sekecil apapun di leher bagian depan, perlu memeriksakan diri ke dokter layanan primer (pribadi) agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang kelainan yang ada. Tentu tidak semua benjolan yang ada di bagian depan leher diakibatkan oleh kelainan kelenjar tiroid. Tidak semua penyakit tiroid mudah diketahui penyebabnya. Penegakan diagnosis pasti sangat diperlukan untuk menetapkan jenis pengobatan yang tepat. Dokter layanan primer atau dokter umum dapat sebagai dokter pertama yang mengarahkan pemeriksaan, biasanya jika diperlukan baru dokter tersebut mempertimbangkan untuk konsul kepada dokter internist atau dokter konsultan endokrin atau dokter bedah, sesuai dengan diagnosis dan pengobatan selanjutnya.

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: