Mengenal Pola Asuh Yang Efektif

Mengenal Pola Asuh Yang Efektif

I Made Rustika

Sering didengar keluhan dari orangtua mengenai perkembangan anaknya yang tidak sesuai dengan harapan. Lontaran kekecewaan yang sering dicetuskan: "sejak kecil sudah diberi perhatian penuh dan dipenuhi  berbagai keinginannya tapi perilakunya setelah remaja sangat mengecewakan". Dari ungkapan spontan seperti itu timbul pertanyaan bagaimana sebaiknya memperlakukan anak sejak usia dini sehingga anak berkembang menjadi individu yang matang, mandiri dan berprestasi.

Menurut Baumrind perlakuan orangtua kepada anak secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: memberikan kasih sayang atau memenuhi kebutuhan anak (responsiveness) dan mengarahkan perilaku anak (demandingness). Bertolak dari dua kelompok perlakuan tersebut  dapat diklasifikasikan empat gaya pengasuhan (pola asuh), yaitu: permisif, autoritarian, tidak terlibat, dan autoritatif. Apabila gaya pengasuhan sangat didominasi oleh pemenuhan kebutuhan anak dan kurang mengarahkan perilaku anak maka disebut pola asuh permisif. Pengasuhan yang didominasi oleh tuntutan kepada anak supaya perilakunya mengikuti apa yang diinginkan oleh orangtua sedangkan pemenuhan kebutuhan kasih sayang anak kurang diperhatikan maka disebut pola asuh autoritarian. Orangtua yang mengabaikan kebutuhan anak dan juga tidak mengarahkan anak disebut dengan pola asuh tidak terlibat. Pengasuhan yang memenuhi kebutuhan kasih sayang (menghargai kemampuan) anak dan juga mengarahkan perilaku anak supaya mengikuti aturan-aturan yang ada disebut pola asuh autoritatif (demokratis).

Perkembangan kepribadian anak ditentukan oleh faktor bawaan dan perlakuan lingkungan seak usia dini. Perlakuan orangtua dengan pola asuh permisif akan membuat anak memandang orangtuanya sebagai figur yang siap memenuhi berbagai keinginannya, sehingga pada waktu ia membutuhkan sesuatu ia tidak perlu bersusah payah mengusahakannya sendiri karena orangtua akan memenuhinya. Pada waktu menghadapi rintangan untuk mencapai sesuatu maka ia langsung meminta pertolongan pada orangtua untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Ketergantungan pada orangtua seperti itu akan menghambat perkembangan kemandiriannya sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi individu yang selalu tergantung pada orang lain, kurang berani menghadapi tantangan hidup. Dalam kehidupan sosial ia kurang memperhatikan aturan-aturan yang ada dan kurang peka terhadap perasaan orang lain.

Anak-anak yang diasuh dengan pola asuh autoritarian akan mengikuti berbagai aturan dan perintah yang disampaikan oleh orangtua, sehingga anak akan berusaha selalu patuh pada perintah orangtua. Oleh karena orangtua autoritarian kurang menghargai kemampuan anak dan kurang  memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat maka anak-anak cenderung tumbuh dan berkembang menjadi individu yang kurang berani menyampaikan pendapat. Banyak penelitian menunjukkan dalam kehidupan di luar rumah anak sering melanggar berbagai aturan yang diterapkan di rumah, sehingga banyak yang terlibat dalam berbagai kasus pelanggaran.

Pola asuh tidak terlibat (mengabaikan) akan membuat anak merasa kurang mendapat kasih sayang yang dibutuhkan dan juga kurang mendapat pengarahan tata krama (perilaku yang diharapkan), sehingga anak kurang mempunyai pegangan dan mudah larut mengikuti ajakan orang lain. Anak akan mudah mengikuti ajakan teman-temannya dengan harapan diterima oleh teman-temannya. Apabila teman-teman sebayanya membanggakan perilaku yang tidak bertanggung jawab maka ia akan mudah ikut terlibat dalam perilaku tersebut. Hasil penelitian menunjukkan anak-anak dari keluarga dengan gaya pengasuhan tidak terlibat banyak yang terlibat dalam menggunakan obat-obat terlarang.

Dalam penerapan pola asuh autoritatif ada keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan kasih sayang anak (responsiveness) dan tuntutan kepada anak untuk mengikuti suatu aturan tertentu (demandingness), sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi individu yang percaya diri dan mandiri karena sejak usia dini ia terbiasa berdiskusi dengan orangtua dan pendapatnya dihargai, serta perilakunya terarah dan bertanggung jawab karena diberi peringatan pada waktu melakukan tindakan yang tidak sopan (tidak sesuai dengan norma-norma). Dalam belajar ia cenderung mengembangkan motivasi intrinsik, alasan ia belajar adalah untuk menguasai ilmu yang dipelajari bukan hanya  untuk menyenangkan orangtua. Dari  penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan pola asuh autoritatif merupakan pola asuh yang paling efektif, anak-anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan mampu mengaktualisasikan potensi dirinya secara optimal, ia akan tetap belajar giat meskipun tidak diawasi orangtua, ia akan berani dengan tegas menolak ajakan teman yang tidak bertanggung jawab karena ia berkeyakinan masa depan dia ditentukan oleh keputusan-keputusan yang dia ambil.

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: