Kasus Kekerasan pada Siswa Marak, Sastra Solusinya

Kasus Kekerasan pada Siswa Marak, Sastra Solusinya

Wahyu Budi Nugroho

Sangat disayangkan, Indonesia menjadi salah satu dari beberapa negara di dunia yang tak memberikan pelajaran sastra bagi siswa-siswinya baik dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Perlu dicatat, pelajaran sastra berbeda dengan pelajaran bahasa Indonesia yang lebih banyak berkutat pada dimensi ekstrinsik bahasa berikut struktur bahasa; pelajaran sastra berupaya mengajak setiap pembelajarnya menyelami lebih dalam hakikat kebahasaan sebagai way of being (cara mengada) manusia dalam mengekspresikan dirinya, perasaannya, juga dalam berhubungan dengan manusia lain dan lingkungannya. Dengan demikian, sastra tak hanya menjamah aspek logika kebahasaan, tetapi juga dimensi afeksi atau perasaan dari mereka yang bersentuhan dengannya. Bilapun ada pelajaran sastra yang diberikan kepada siswa saat ini, itu hanyalah materi yang sangat sedikit dan terbatas saja sebagai bagian dari pelajaran bahasa Indonesia.
Hilangnya pelajaran sastra dari kurikulum pendidikan Indonesia bermula dari dicabutnya mata pelajaran ini di awal kekuasaan Orde Baru. Kebijakan pencabutan pelajaran sastra dari sekolah-sekolah disebabkan oleh begitu menonjolnya para penulis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada masa itu, seperti; Sitor Situmorang, Hesri Setiawan, Rivai Apin, dan terutama Pramoedya Ananta Toer. Kebijakan ini tentu patut disayangkan mengingat semesta sastra Indonesia sesungguhnya tak hanya dapat direduksi pada berbagai karya sastra beraliran realisme (sastra realis) yang dihasilkan Lekra, melainkan jauh lebih kaya dan melampauinya. Sebagai misal, karya-karya sastra yang dihasilkan oleh Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 1945, Angkatan 1966, Angkatan 1980-1990an, Angkatan Reformasi, Angkatan Kosong-kosong tahun 2000-an, serta yang termutakhir: para pegiat Cyber Sastra.
Dalam hal ini, apabila pemerintah hendak mengeliminasi bibit radikalisme pada generasi muda, sastra bisa menjadi solusinya karena ia dapat melembutkan perasaan dan meningkatkan kepekaan sosial, begitu pun pada kasus kekerasan antarsiswa yang kian marak dewasa ini. Sastra merupakan saluran ekspresi tanpa batas di mana setiap orang dapat menumpahkan keluh-kesah, ampas-ampas pikiran, bahkan emosi negatif seperti agresi yang selama ini terpendam dalam diri. Patut disayangkan, saat ini kita kehilangan generasi muda yang gemar mengekspresikan berbagai pengalamannya dalam diary (buku harian) layaknya generasi 90-an lalu, kini peran diary seolah digantikan oleh media sosial di mana kerapkali generasi muda menumpahkan hal-hal bersifat privat yang sesungguhnya tak pantas dijadikan konsumsi publik. Tindakan semacam ini, seringkali justru kian memperparah masalah dan sama sekali tak memberikan solusi.
Lebih jauh, sastra menyediakan pada kita beragam pilihan serta banyak cara “menghadapi dunia” melalui tokoh-tokohnya. Dengan begitu, rentang antara stimulus dengan respon yang kita miliki semakin panjang dan semakin membuka ruang bagi beragam interpretasi kala menghadapi suatu persoalan. Sebagai misal, bagaimana tokoh pengacara berintegritas bernama Atticus dalam novel To Kill a Mockingbird karya Harper Lee telah menginspirasi banyak orang, juga tokoh Santiago dalam novel Paulo Coelho berjudul The Alchemist yang sudah merubah kehidupan banyak orang, atau jika kita mengambil misal karya sastra dalam negeri, kita dapat menilik novel-novel seperti Laskar Pelangi, Negeri Lima Menara, serta 2 Cm yang telah menginspirasi pembaca tanah air secara luas.
Di samping itu, sastra juga memiliki fungsi strategis dalam menjaga identitas berikut jati diri sebuah bangsa atau masyarakat. Dalam hal ini, dapatlah dinyatakan betapa sastra mampu menjadi media rekam yang efektif terhadap perjalanan situasi dan kondisi masyarakat dari waktu ke waktu. Lewat membaca atau mempelajari karya sastra tanah air, itu sama halnya dengan melakoni perjalanan kontemplatif guna lebih memahami diri dan masyarakat tempat kita berada. Akhir kata, sementara para siswa di luar negeri selalu mempunyai proyek penulisan sastra dalam masa studinya, begitu juga seharusnya siswa-siswi kita. Tegas dan jelasnya, tak pernah ada kata terlambat.

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: