Peran Kecerdasan Emosional dalam Keberhasilan Studi

Peran Kecerdasan Emosional dalam Keberhasilan Studi

I Made Rustika

Seringkali dijumpai orang melontarkan pernyataan "kalau orang mempunyai IQ tinggi pasti mampu menyelesaikan kuliah dengan cepat karena berbagai materi kuliah yang diberikan akan dapat dipahami dengan mudah". Dalam kenyataannya tidak jarang dijumpai orang yang cerdas secara kognitif dan dibangga-banggakan orangtua dan guru-guru pada waktu masih anak-anak tidak dapat menyelesaikan studi dengan lancar, bahkan tidak jarang ia berhenti kuliah di tengah jalan. Di sisi lain, seseorang yang prestasinya biasa-biasa saja pada waktu masih anak-anak akhirnya mampu menyelesaikan studi, meskipun dengan perjuangan berat.  Timbul pertanyaan, mengapa hal itu bisa terjadi, faktor apa yang menentukan keberhasilan studi seseorang ?

Apabila ditelusuri variabel-variabel yang berkaitan dengan keberhasilan studi tentu akan dijumpai banyak sekali variabel yang ikut berperan, salah satu variabel yang mempunyai peran sangat besar dalam keberhasilan studi adalah kecerdasan emosional, yaitu aspek mental yang berkaitan dengan kemampuan mengelola gejolak emosi. Apabila kecerdassan kognitif berkaitan dengan kemampuan mngananalisis permasalahan secara rasional, maka kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan mengenali gejolak emosi, kemampuan mengendalikan gejolak emosi, kemampuan mengarahkan gejolak emosi menjadi perilaku produktif (motivasi berprestaasi), kemampuan merasakan perasaan orang lain (empati), dan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain. Kegagalan seseorang dalam menyelesaikan studi tidak jarang disebabkan oleh kegagalan dalam mengelola gejolak emosi. Seorang mahasiswa yang mempunyai taraf kecerdasan emosional rendah akan sulit mengendalikan gejolak emosi pada waktu mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari dosennya, ia akan langsung bereaksi mengekspresikan kemarahannya baik berupa ungkapan-ungkapan secara verbal maupun reaksi perilaku yang menunjukkan perlawanan. Kekecewaan-kekecewaan tersebut bisa berlanjut pada menurunnya motivasi untuk menyelesaikan studi, sehingga ia kurang bersemangat mengikuti kuliah, jarang menemui dosen pembimbing skripsi apabila ia sedang menyususn skripsi, dsb. Apabila reaksi-reaksi negatif tersebut terus berlanjut maka besar kemungkinan prestasi akademiknya akan menurun. Lain halnya dengan mahasiswa yang mempunyai taraf kecerdassan emosional tinggi, pada waktu ia dihadapkan pada perlakuan yang kurang menyenangkan dari dosen, maka ia mampu mengendalikan gejolak emosinya. Keinginan untuk melakukan penyerangan terhadap dosen, baik penyerangan secara verbal maupun penyerangan secara fisik dapat ia kendalikan, ia mampu menampilkan perilaku yang simpatik dihadapan dosen. Ia mampu mengenali emosi marah yang sedang bergejolak dalam dirinya, sehingga ia mampu berbisik kepada dirinya "saya tahu saya sedang marah karena harga diri saya diremehkan, apabila saya ikuti gejolak emosi marah ini dengan melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab maka perjuangan saya bertahun-tahun bisa kandas dalam sesaat".

Orang dengan kecerdasan emosional tinggi akan mampu memandang permasalahan dari sudut pandang yang luas sehingga penilaiannya terhadap masalah akan lebih bijaksana, serta dapat melihat hikmah dari suatu permasalahan yang dihadapi. Pada waktu mendapat cemohan karena mendapat nilai rendah, ia mampu menggunakan perasaan kecewa tersebut sebagai pemacu semangat untuk bangkit menggunakan potensi diri secara optimal sehingga prestasi akademiknya meningkat. Kemampuan menilai diri secara jernih sehingga mengetahui kelebihan dan kekurangn diri juga akan berdampak pada kepercayaan diri, ia lebih percaya diri dalam melakukan tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam kegiatan belajar yang melibatkan orang banyak seperti dalam diskusi kelompok ia akan mampu beradaptasi dengan cepat karena ia percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan mampu peka merasakan perasaan orang lain yang diajak berdiskusi. Pada waktu ia tidak setuju dengan pendapat orang lain ia mampu menyampaikannya dengan simpatik sehingga orang lain tidak merasa diremehkan. Kemampuan-kemampuan ini selanjutnya tentu akan berdampak pada pencapaian prestasi akademik yang tinggi.

Dari apa yang telah dikemukakan nampaklah bahwa kecerdasan emosional merupakan aspek mental yang sangat menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studi, IQ tinggi yang dimiliki seseorang mahasiswa tidak akan dapat teraktualisasi secara optimal apabila  tidak mampu mengendalikan gejolak emosi. Peran kecerdasan emosional tidak terbatas pada bidang pendidikan, aspek mental ini berperan dalam semua bidang kehidupan. Mengingat begitu pentingnya peran kecerdasan emosional dalam kehidupan maka sangat penting mengasah aspek mental ini sejak usia dini. Anak tidak cukup hanya ditingkatkan kemampuan kognitifnya dengan berbagai kursus, tapi juga sangat penting untuk diasah kecerdasan emosionalnya.

** Segala tanggung jawab terhadap isi dari tulisan ini ada pada penulis
Share Suara Pakar: