Saat Jajaki Kerja Sama Akademik, Koprodi S3 Kajian Budaya FIB Unud Diundang Memberikan Kuliah Pakar di FIB UNS Solo

Koprodi S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana diundang memberikan ‘kuliah pakar’ bertajuk “Dari Kajian Sastra ke Kajian Budaya: Teks Sastra, Wacana Media, dan Identitas” di hadapan dosen dan mahasiswa dari tiga prodi Fakultas Ilmu Budaya UNS Solo, Jumat, 17 November 2023. Ketiga prodi itu adalah Prodi S1 Sastra Indonesia, S2 Kajian Budaya, dan S3 Kajian Budaya FIB UNS Solo.


Seminar yang dilaksanakan secara hibrid diikuti 120 mahasiswa S1 secara luring, dan sekitar 70 secara daring. Bertindak selaku moderator adalah Koprodi S3 Kajian Budaya UNS, Dra. S.K. Habsari, M. Hum.,Ph.D.


Dalam sambutan pembukaannya, Dekan FIB UNS Solo, Prof. Dr. Warto, M. Hum. menyampaikan menyambut baik kegiatan ‘kuliah pakar’ dan yakin kegiatan akademik ini memberikan persepsi baru kepada mahasiswa peserta. “Fokus dan ambil sebanyak mungkin ilmu dari Prof. Darma,” ujar Dekan FIB UNS Solo.


Dekan Prof. Warto juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran Korprodi S3 Kajian Budaya FIB Unud berkaitan dengan penjajakan kerja sama akademik di bidang pengajaran, riset, dan publikasi.


Dalam paparannya, Prof. Darma Putra menyampaikan pentingnya mengkaji karya sastra sebagai wacana salah satunya dengan pendekatan intertekstualitas dengan wacana media massa. Kajian sastra tidak saja sebatas melihat teks dengan pembahasan alur, tokoh, dan gaya bahasa, tetapi mengeksplorasi gagasan, wacana, atau ideologi yang tersembunyi di balik teks sastra.


Guru Besar FIB Unud itu memberikan contoh pembacaan atas novel terkenal Belenggu karya Armijn Pane. Pembacaan yang fokus pada teks secara intrinsik akan melihat novel ini berkisah tentang perselingkuhan tokoh cerita, sedangkan kalau dibaca secara intertekstualitas dengan pergerakan nasional di Indonesia sejak zaman Budi Utomo, novel ini menyampaikan semangat nasionalisme melawan penjajah.


“Penerbit Belanda tidak mau menerbitkan novel itu dengan alasan tema negatif soal perselingkuhan, sebetulnya sangat mungkin karena novel itu mewacanakan gerakan nasionalisme anti-penjajahan,” ujar Darma. 


Hal lain yang penting dari kuliah Darma adalah ajakan bagi mahasiswa untuk melihat sama pentingnya sastra kanon dan sastra populer karena di sana selalu ada wacana yang penting yang berkaitan dengan wacana atau isu-isu sosial di masyarakat. 


“Tidak saatnya lagi membedakan sastra kanon dengan merendahkan sastra populer, karena sastra populer pun sangat besar pengaruhnya pada kehidupan sosial, " tambah Prof. Darma. 


Kuliah Pakar ditutup oleh Wakil Dekan Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FIB UNS, Prof. Tri Wiratno, M.A., kemudian dilanjutkan dengan foto bersama. Prof. Tri menyerahkan buku karyanya kepada Prof Darma, keduanya adalah teman lama yang dulu sama-sama kuliah di University of Sydney (*).