LOADING...
Udayana University

Unud dan Mitra Global Bahas Masa Depan AI Berbasis Kearifan Lokal dan Keberlanjutan melalui CIKSWT 2026

September 07, 2026 15:20 Biro Akademik, Kerjasama, dan Hubungan Masyarakat (BAKH) Berita

Denpasar – Universitas Udayana (Unud) bersama Tsinghua Southeast Asia Center dan School of Cybernetics Australian National University (ANU) memperkuat kolaborasi internasional melalui penyelenggaraan International Conference on Indigenous Knowledges, Systems, Wisdom & Technology (CIKSWT) 2026 di Kampus United in Diversity (UID) Bali, Jumat (4/9/2026).

Mengusung tema “The Future in Balance: AI, Humanity, and Sustainability”, konferensi internasional edisi kedua ini menjadi ruang dialog bagi akademisi, peneliti, pemegang pengetahuan adat, pembuat kebijakan, praktisi, dan pengembang teknologi untuk membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) yang tetap berlandaskan nilai kemanusiaan, keberagaman budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

CIKSWT 2026 menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai bidang, di antaranya Founder Bandung Fe Institute Prof. Hokky Situngkir, serta Prof. Angie Abdilla dari School of Cybernetics ANU. Konferensi ini turut menghadirkan sejumlah akademisi internasional yang membahas AI dari perspektif teknologi, etika, budaya, tata kelola data, hingga dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.

Chair CIKSWT 2026 sekaligus Academic Director Tsinghua Southeast Asia Center, Michael Tuori, menyampaikan bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan terkait etika, representasi budaya, bias algoritma, tata kelola data, dan keberlangsungan sistem pengetahuan yang beragam.

Menurutnya, kearifan dan sistem pengetahuan adat tidak semestinya dipandang berlawanan dengan teknologi. Keduanya justru dapat saling memperkuat dalam membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Sementara itu, Rektor Universitas Udayana Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menegaskan bahwa AI akan menjadi bagian penting dari masa depan pendidikan, penelitian, dan pemecahan berbagai persoalan global. Namun, pemanfaatannya harus tetap berlandaskan etika, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan.

“Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah AI akan membentuk masa depan kita, karena itu pasti terjadi. Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana kita memastikan masa depan tersebut tetap berpusat pada manusia (human-centred), inklusif secara budaya, dan berkelanjutan bagi lingkungan,” tegas Rektor.

Dalam merespons perkembangan teknologi, Unud memiliki pijakan nilai melalui filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Perspektif tersebut menjadi relevan dalam melihat bagaimana teknologi dan AI dapat dikembangkan secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan nilai budaya dan keberlanjutan.

Nilai tersebut juga tercermin dalam berbagai upaya Unud mengembangkan teknologi yang tetap berakar pada identitas dan pengetahuan lokal, salah satunya melalui proyek digitalisasi dan preservasi naskah kuno Lontar di Fakultas Ilmu Budaya dengan dukungan teknologi AI.

CIKSWT 2026 membahas beragam isu, mulai dari AI dan etika, machine learning, keadilan epistemik, kedaulatan digital, tata kelola data, bias algoritma, revitalisasi bahasa, hingga preservasi warisan budaya dan sistem pengetahuan adat.

Konferensi ini melanjutkan penyelenggaraan perdana CIKSWT pada 2025 yang mengangkat tema “Tri Hita Karana and Sustainability” dan mempertemukan 155 peserta dari berbagai sektor dengan 44 makalah riset yang mewakili 10 negara.

Melalui CIKSWT 2026, Universitas Udayana memperkuat perannya sebagai ruang kolaborasi global yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan riset dan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga mampu memberikan solusi yang relevan bagi masyarakat dan menjawab tantangan global.