LOADING...
Udayana University

Unud Jalin Kerjasama dengan YADEMA, Buka Peluang Kolaborasi dalam Berbagai Bidang

April 27, 2026 10:28 Biro Akademik, Kerjasama, dan Hubungan Masyarakat (BAKH) Berita

Jimbaran – Universitas Udayana melaksanakan Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Yayasan Dharma Etika Madani bertempat di Ruang Bahasa Gedung Rektorat Kampus Jimbaran, Rabu (22/4/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Universitas Udayana Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T.,Ph.D., Pendiri Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) Dicky Sofjan, M.A., M.P.P., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Informasi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dekan dan Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Koordinator Kerjasama dan Humas.

Rektor Unud Prof. I Ketut Sudarsana dalam kesempatan ini menyampaikan, kerja sama ini memiliki makna strategis. Sebagai perguruan tinggi negeri yang berkomitmen pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pihaknya memandang kolaborasi ini sebagai salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kualitas SDM, mutu pembelajaran, serta kebermanfaatan kepada masyarakat luas. Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman ini, Universitas Udayana dan Yayasan Dharma Etika Madani sepakat untuk membuka ruang kerja sama dalam berbagai bidang, antara lain Peningkatan mutu pembelajaran dan sumber daya manusia, Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Hingga pengabdian kepada masyarakat yang bermanfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami memahami bahwa Nota Kesepahaman ini merupakan payung kerja sama, yang selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui perjanjian teknis atau Perjanjian Kerja Sama sesuai kebutuhan masing-masing program. Oleh karena itu, Universitas Udayana berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap rencana kerja sama yang dijalankan nantinya akan dikelola secara profesional, akuntabel, serta selaras dengan regulasi yang berlaku,” ujar Rektor.

Sementara itu Pendiri Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) Dicky Sofjan menyampaikan pihaknya mempunyai kerja sama internasional dari berbagai organisasi filantropik, dari government agencies, Ford Foundation, Henry Luce Foundation, dan beragam organisasi lainnya.

Ia juga saat ini menjabat sebagai Vice President untuk Globethics, sebuah organisasi yang bergerak di bidang etika. Yang terkait dengan pelatihan etika dan antikorupsi di Afrika yang menyangkut masalah church assets. Selain itu juga bergerak di bidang AI Governance and Ethics. Jadi Globethics sudah bekerja sama dengan Uni Eropa dan beberapa mitra, termasuk juga dari perguruan tinggi, khususnya University of Munich di Jerman untuk membangun White Paper tentang AI Governance and Ethics.

“Selain itu kita punya track on Business Ethics. Dan itu juga track-track yang akan kita bangun ketika kita menyelenggarakan acara Global Ethics Forum 2026 di Bali”, ujarnya.

Ia juga menyampaikan Tema utama untuk Global Ethics Forum ini akan menyangkut masalah Human Flourishing. Ada beberapa negara yang diteliti, khususnya hampir 22 negara lebih yang diteliti oleh Harvard-Baylor researchers ini. Global Studies on Flourishing itu ada enam kriteria, dan stabilitas finansial serta welfare itu hanya satu di antara enam kriteria yang dipakai. Selebihnya itu ada Meaning and Purpose.

Pihaknya berharap, ketika menyelenggarakan Global Ethics Forum ini, Yadema bisa bekerja sama dengan Universitas Udayana dan Unhi untuk menyukseskannya. Global Ethics sendiri adalah kumpulan organisasi yang telah dibangun sejak tahun 2004, yang terdiri dari para pakar etika dari berbagai negara.

“Saya tahu bahwa di Bali saat ini isu tentang pengelolaan sampah. Yang berarti mungkin ini mencakup masalah etika lingkungan hidup. Bagaimana kita memperlakukan kehidupan kita dan bagaimana kita mengelola kebersihan alam,” ujarnya.

Setelah penandatanganan MoU ini diharapkan bisa merencanakan kerja sama apa saja yang secara lebih spesifik yang bisa dibangun antara Yadema dan Universitas Udayana.