LOADING...
Udayana University

September 10, 2026 08:37 Biro Akademik, Kerjasama, dan Hubungan Masyarakat (BAKH) Berita

Wujudkan Sinergi Konservasi dan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Pengembangan Anggrek Lokal Bali, Fakultas Pertanian Unud Gelar Focus Group Discussion

Denpasar, 8 September 2026 — Fakultas Pertanian Universitas Udayana menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) “Adaptasi dan Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali” dengan tema “Anggrek untuk Konservasi dan Kesejahteraan: Sinergi Universitas, Masyarakat, dan Industri Berkelanjutan” bertempat di Aula Pascasarjana, Kampus Sudirman Denpasar, Selasa (8/9/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat upaya konservasi anggrek lokal Bali melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga konservasi, masyarakat, dan dunia industri.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, S.P., M.Si., Ph.D.. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, S.P., M.Agb.. Ketua DPD Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, Kepala Dinas Pariwisata Bali, Kepala Dinas Perekonomian Bali, Kepala Brida Bali, ketua LP2M, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Bali, Kepala Dinas DKLH Bali, serta perwakilan BKSDA Bali, BRIN, Desa Pancasari dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, S.P., M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali merupakan bagian dari komitmen Fakultas Pertanian Universitas Udayana dalam menjaga kekayaan biodiversitas Bali melalui pendekatan riset, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian tanaman anggrek, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pengembangan inovasi dan ekonomi berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua DPD Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, turut memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian anggrek lokal Bali dan secara resmi membuka kegiatan FGD. Kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci agar anggrek Bali dapat terus dijaga sebagai bagian dari identitas alam dan budaya Bali.

Dalam kegiatan utama FGD, Koordinator Tim Pelaksana Program Adaptasi Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali, I Putu Sudiarta, S.P., M.Sc., Ph.D., memaparkan rencana pengembangan program yang mencakup eksplorasi, karakterisasi, dan konservasi anggrek alam Bali; pengembangan teknologi perbanyakan anggrek; serta pengembangan Desa Wisata Anggrek Dusun Dasong, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Program tersebut dirancang melalui tahapan berkelanjutan mulai tahun 2026 hingga 2030. Tahap awal difokuskan pada eksplorasi anggrek, penyusunan database dan peta sebaran, penguatan kelembagaan masyarakat, konservasi berbasis kearifan lokal, pengembangan kultur in vitro, serta persiapan paket wisata berbasis konservasi.

Dalam pemaparan Aninda Retno Utami Wibowo, M.Sc. dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, disampaikan bahwa Bali memiliki potensi sekitar 230 jenis anggrek yang masih membutuhkan pendataan dan kajian taksonomi lebih lanjut. Eksplorasi, identifikasi, dokumentasi habitat, serta pencatatan lokasi menjadi langkah penting dalam mendukung konservasi anggrek lokal Bali.

BRIN juga menekankan pentingnya dokumentasi ilmiah melalui pencatatan karakter tanaman, lokasi berbasis GPS, foto habitat, dan penyusunan data spesimen agar informasi mengenai keanekaragaman anggrek Bali dapat tersimpan secara sistematis.
Program konservasi anggrek lokal Bali mengintegrasikan pendekatan ilmiah dengan nilai budaya Bali melalui filosofi Tri Hita Karana, yaitu menjaga keseimbangan hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Salah satu bentuk pendekatan lokal yang dibahas adalah pemanfaatan saput/kain poleng sebagai simbol keseimbangan dalam mendukung perlindungan habitat anggrek.

Selain konservasi di habitat alami, Fakultas Pertanian Universitas Udayana juga mengembangkan teknologi perbanyakan anggrek melalui kultur jaringan, selfing, crossing, dan somatic embryogenesis. Teknologi ini diharapkan mampu mendukung penyelamatan jenis anggrek langka sekaligus menyediakan bahan tanaman untuk pengembangan budidaya secara berkelanjutan.

Perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menyampaikan pentingnya pengelolaan sumber daya genetik spesies liar secara bertanggung jawab sesuai ketentuan konservasi. Akses terhadap sumber daya genetik untuk kepentingan penelitian harus dilakukan melalui proses pendataan, perizinan, dan dokumentasi yang sesuai.

BKSDA Bali juga mendukung kegiatan inventarisasi dan eksplorasi keanekaragaman vegetasi di kawasan konservasi, termasuk kawasan Taman Wisata Alam Danau Buyan–Danau Tamblingan, sebagai bagian dari upaya pengembangan konservasi dan wisata berbasis biodiversitas.

Dalam sesi pengembangan pariwisata, Dr. I Putu Sudana, A.Par., M.Par., menyampaikan konsep pengembangan model Desa Wisata Anggrek berbasis masyarakat sebagai bentuk hilirisasi konservasi dan edukasi lingkungan. Pengembangan desa wisata diarahkan agar anggrek menjadi daya tarik utama yang mampu memberikan pengalaman wisata melalui konsep Something to See, Something to Do, Something to Buy, Something to Learn, dan Something to Share.

Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama melalui keterlibatan pemerintah desa, BUMDes, kelompok sadar wisata, kelompok tani, kelompok anggrek, UMKM, serta generasi muda dalam membangun ekosistem wisata berbasis konservasi.

Melalui kegiatan FGD ini, seluruh peserta sepakat bahwa pelestarian anggrek lokal Bali membutuhkan komitmen dan kolaborasi jangka panjang. Beberapa rekomendasi penting yang dihasilkan antara lain perlunya pendataan sekitar 250 jenis anggrek, penguatan konservasi berbasis budaya lokal, pengembangan metode perbanyakan berbasis penelitian, serta menghasilkan produk hilirisasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat Dusun Dasong.

Fakultas Pertanian Universitas Udayana berkomitmen menjadikan program pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali sebagai model kolaborasi antara konservasi, penelitian, pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.