LOADING...
Udayana University

Mematri Jejak Digital Gender Wayang Buduk dalam Program Bina Desa Buduk FIB Unud

Juni 23, 2026 13:02 Biro Akademik, Kerjasama, dan Hubungan Masyarakat (BAKH) Berita

Badung – Komitmen Universitas Udayana sebagai Kampus Berdampak kembali diwujudkan melalui aksi nyata mahasiswa di tengah masyarakat. Melalui Program Bina Desa Buduk Tahun 2026, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana melaksanakan inventarisasi dan dokumentasi audio visual kesenian Gender Wayang Buduk sebagai upaya pelestarian warisan budaya lokal berbasis teknologi digital ( 31/5/26).

Ketenaran dalang wayang Buduk telah menggema sejak era 1950-an. Kemudian disusul dengan pamor dari lantunan Gender Wayang Buduk yang mengiringi pementasan wayang dengan gayanya yang khas. Keberadaan dua macam kesenian yang saling berkaitan erat itu menjadi sebuah ikon bagi Desa Buduk. I Wayan Renduh yang merupakan salah satu tokoh seniman Gender Wayang Buduk menuturkan bahwa secara garis besar, iringan Gender Wayang Buduk memainkan lagu-lagu yang sama seperti iringan Gender Wayang pada umumnya. Renduh yang juga merupakan pemilik sanggar Sekaa Batel Dwi Tunggal (kelompok seni Gender Wayang–red) menuturkan bahwa perbedaannya terletak pada beberapa nada yang diberi improvisasi. Dalam style atau gaya Buduk, para seniman membubuhkan kreasi khas Buduk melalui tambahan pukulan atau nada dalam lagu-lagu yang dimainkan sehingga menciptakan Gender Wayang ala Buduk.

Lebih lanjut, Renduh yang masih aktif bergelut dengan dunia Gender Wayang di Buduk itu memaparkan bahwa Gender Wayang di Buduk dipelopori oleh I Wayan Kenak. Seorang seniman yang berasal dari banjar Bernasi, desa Buduk. Bersama Wayan Kenak serta beberapa tokoh lainnya, Renduh berlatih dan memainkan Gender Wayang di era 90-an. Eksistensi Gender Wayang tersebut kemudian berlanjut hingga saat ini melalui keterlibatan generasi selanjutnya yang meneruskan warisan tersebut.

Kendati demikian, berdasarkan penuturan Renduh, hingga saat ini dokumentasi Gender Wayang Buduk yang memadai masih terbatas. “Rencananya selama niki, katanya mau direkam, tapi belum mungkin waktunya (belum sempat dilakukan proses dokumentasi audio visual terhadap kesenian Gender Wayang di Buduk–red), ujar Renduh ketika diwawancarai pada 25 Mei 2026. Beranjak dari situasi tersebut, Tim Bina Desa Buduk menginisiasi kegiatan inventarisasi sebagai langkah awal untuk menjaga keberlanjutan warisan seni Gender Wayang kepada generasi berikutnya melalui media digital. Proses rekaman tersebut dilaksanakan di kediaman Wayan Renduh sekaligus merupakan lokasi Sekaa Batel Dwi Tunggal.

Koordinator bagian inventarisasi, I Gusti Agung Ayu Putri Pradnyaparamita menuturkan bahwa dokumentasi atau jejak digital mengenai Gender Wayang belum sepenuhnya optimal. Berkenaan dengan hal tersebut, proses inventarisasi ini dilakukan sebagai upaya pelestarian dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai media arsip budaya maupun sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. “Pak Renduh mengatakan bahwa dokumentasi belum terlaksana, sementara warisan ini berupa suara dan memerlukan media atau wadah agar tidak lesap dimakan zaman. Maka dilakukan proses rekaman ini, supaya aset budaya ini terjaga keberadaannya serta dapat menjadi jejak digital yang nantinya dapat diakses dengan mudah oleh generasi berikutnya,” ujar Putri.
Rencana dokumentasi dalam bentuk audio visual tersebut disambut baik oleh dari Renduh yang hingga kini masih aktif menggeluti kesenian Gender Wayang. Proses dokumentasi diawali dengan pendataan urutan lagu-lagu yang mengiringi pementasan wayang. Selanjutnya, Wayan Renduh bersama tiga orang seniman Gender Wayang dari Sekaa Batel Dwi Tunggal lainnya yaitu ⁠I Gede Ryan Gunawan, Kadek Eddy Suardinata, dan Komang Eddo Surya Dinata, memainkan berbagai gending yang dimainkan dalam pertunjukan wayang Buduk. Seluruh proses permainan direkam dalam format audio visual sebagai bahan dokumentasi dan arsip kesenian Desa Buduk. Dalam proses rekaman tersebut, daftar lagu yang dimainkan merupakan lagu-lagu yang umumnya dimainkan dalam mengiringi alur atau tahapan dalam pementasan wayang. Dimulai dari tabuh pategak (iringan pembuka) yaitu Sekar Jepun dan Palegongan, kemudian dilanjutkan dengan Pamungkah Gedog, Pengrangrang, Tulang Lindung, Alas Harum, Penyahcah Parwa, Bebaturan, Gending Angkat-angkatan, Penasar Delem, Bendu Semara, Mesem, hingga tabuh penutup.

Kegiatan ini turut disaksikan oleh Kepala Seksi Pemerintahan Desa Buduk, I Gede Sumiastika. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya penyelamatan warisan budaya lokal yang selama ini minim dokumentasi. “Lagu yang yang diwariskan ini adalah lagu yang betul-betul tanpa ada tertulis, tanpa ada dokumentasi. Jadi, kalau mau tidak mau kami sebagai sebagai generasi penerus maunya menginventarisasi ya” ujar Sumiastika. Selama ini, pelestarian Gender Wayang Buduk memang hanya mengandalkan metode pengajaran lisan dari generasi ke generasi. Minimnya catatan tertulis serta pendokumentasian menjadi salah satu ancaman serius di tengah majunya era modernisasi. Oleh karena itu, melalui proses inventarisasi yang melibatkan perekaman audio-visual ini, pemerintah desa berharap agar warisan budaya lokal dapat terselamatkan.

Dalam pelaksanaan dokumentasi Gender Wayang, tim Media Kreatif (Medkref) menghadapi sejumlah tantangan teknis, khususnya pada proses perekaman audio. Keterbatasan pengetahuan mengenai teknik perekaman musik tradisional serta keterbatasan perangkat yang tersedia menjadi kendala selama proses dokumentasi berlangsung. Untuk mengatasi hal tersebut, tim menerapkan beberapa metode perekaman, seperti penggunaan mikrofon yang dihubungkan langsung ke laptop, penempatan beberapa telepon genggam di titik yang berbeda, serta perekaman menggunakan audio kamera. “Keterbatasan pengetahuan mengenai teknik perekaman audio, khususnya dalam pengaturan suara musik tradisional, menjadi tantangan tersendiri selama proses dokumentasi berlangsung,” ujar Adinda Abigael Rehulina Bukit, selaku koordinator Divisi Media Kreatif Tim Bina Desa Buduk.
Meskipun demikian, berbagai tahapan dokumentasi berhasil diselesaikan. Saat ini, proses dokumentasi telah melewati tahap penyuntingan audio dan video, serta tengah dipersiapkan untuk dipublikasikan melalui berbagai platform media sosial agar dapat diakses oleh masyarakat luas. “Bagian progresnya bisa dibilang sudah melewati tahap penyuntingan dan menuju publikasi,” imbuh Adinda.

Menutup rangkaian kegiatan, Ketua Tim Bina Desa Buduk, Gusti Ayu Putu Dian Oktamaharani, menyampaikan harapannya agar inventarisasi dan dokumentasi Gender Wayang dapat menjadi langkah awal dalam membangun arsip audio visual kesenian tradisional Desa Buduk. Menurutnya, dokumentasi tersebut penting sebagai sarana pembelajaran sekaligus upaya pelestarian budaya bagi generasi mendatang. “Ciri khas yang terdapat pada gending-gending Gender Wayang yang dimiliki oleh Desa Buduk sudah sepatutnya diperkenalkan dan didokumentasikan, sehingga ke depannya tetap lestari dan memiliki generasi penerusnya,” ujar Dian. Harapan senada sebelumnya juga diungkapkan oleh Sumiastika saat menghadiri prosesi rekaman Gender Wayang. Ia ingin melalui langkah ini, agar generasi muda tidak hanya sekedar tahu, namun dapat memahami serta menjaga esensi dari Gender Wayang Buduk agar tidak tertelan zaman.