Dili, 14 April 2026 — Seminar hasil riset kolaborasi antara Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan Ministério da Agricultura, Pecuária, Pesca e Florestas (MAPPF) Republik Demokratik Timor-Leste tampil sebagai panggung strategis kerja sama antarnegara yang menandai semakin kuatnya peran riset dalam pembangunan nasional Timor-Leste. Kegiatan ini mendapat apresiasi langsung dari Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, yang menegaskan bahwa hasil penelitian ini harus menjadi fondasi penting dalam kebijakan nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, mempercepat kemandirian produksi, dan mengarahkan pembangunan wilayah secara lebih terukur dan berbasis potensi nyata.
Seminar prestisius ini disamping dihadiri oleh Perdana Menteri secara langsung, juga dihadiri Wakil Perdana Menteri Mariano Assanami Sabino, bersama 47 anggota kabinet negara yang terdiri atas jajaran menteri dan wakil menteri, serta 14 President Authority Munisípiu (PAM) dari seluruh Timor-Leste yang mewakili 13 munisípiu dan 1 daerah administratif khusus RAEOA. Tidak kurang dari 500 peserta juga hadir, meliputi staf kementerian, dinas teknis dari setiap munisípiu, unsur pemerintah daerah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan pembangunan. Kehadiran yang begitu besar dan lintas level pemerintahan ini menegaskan bahwa hasil penelitian kolaboratif tersebut telah ditempatkan sebagai dokumen strategis negara, bukan semata keluaran akademik, melainkan sebagai rujukan penting bagi pengambilan keputusan, penyusunan program prioritas, dan pelaksanaan pembangunan nasional Timor-Leste di masa depan.

Seminar ini menandai penyelesaian riset kolaboratif selama dua tahun, yaitu 2024–2025, dengan fokus pada evaluasi kesesuaian lahan dan pemetaan potensi wilayah untuk pengembangan komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan di Timor-Leste. Penelitian mencakup 14 munisípiu, yakni Aileu, Ainaro, Ataúro, Baucau, Bobonaro, Covalima, Dili, Ermera, Lautém, Liquiçá, Manatuto, Manufahi, RAEOA, dan Viqueque. Melalui pendekatan berbasis evaluasi lahan, analisis tanah, survei lapangan, serta data geospasial hingga tingkat Postu dan Suco, riset ini menghasilkan gambaran komprehensif mengenai arah pengembangan sektor primer Timor-Leste secara lebih terukur, spesifik lokasi, dan berkelanjutan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Republik Demokratik Timor-Leste, Eng. Marcos da Cruz, MAgSt, yang menekankan bahwa temuan-temuan penelitian ini perlu diterjemahkan menjadi kebijakan implementatif dan action plan project yang nyata di lapangan. Menurut beliau, hasil riset ini sangat penting untuk memastikan bahwa pembangunan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan di Timor-Leste ke depan tidak lagi berjalan secara parsial, tetapi terintegrasi, efisien, dan didasarkan pada bukti ilmiah.

Delegasi Universitas Udayana dipimpin oleh Prof. Dr. Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya, S.P., M.Agr, selaku Wakil Rektor III Universitas Udayana, didampingi oleh I Putu Sudiarta, S.P., M.Si., Ph.D, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, serta tim peneliti multidisiplin yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Ni Made Trigunasih, M.P. Tim peneliti juga diperkuat oleh Prof. Dr. Ir. I Made Mega, M.S, Dr. Ir. I Dewa Made Arthagama, M.P., Dr. Ir. Ni Luh Gde Sumardani, S.Pt., M.Si., IPM., Ir. Moh Saifulloh, M.Sc., dan I Wayan Darya Kartika, S.Pi., M.Si., yang masing-masing berkontribusi dalam bidang evaluasi lahan, klasifikasi tanah, sifat dan kesuburan tanah, peternakan, pemetaan wilayah dan penginderaan jauh, serta perikanan air tawar.
Dalam paparannya, Ketua Tim Peneliti Prof. Trigunasih menyampaikan bahwa Timor-Leste memiliki fondasi spasial yang kuat untuk membangun sistem pangan nasional yang lebih mandiri, terintegrasi, dan berkelanjutan. Struktur pemanfaatan lahannya didominasi oleh agroforestri sekitar 29% dan pertanian lahan kering sekitar 27%, sementara sawah irigasi sekitar 12% dan sawah tadah hujan sekitar 7% tetap menjadi basis utama produksi pangan nasional. Temuan ini menunjukkan bahwa Timor-Leste telah memiliki ruang produksi yang jelas untuk dikembangkan secara terarah guna memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Dari sisi ketahanan pangan, hasil pemodelan penelitian menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan. Apabila sawah irigasi dan sawah tadah hujan dioptimalkan, potensi surplus pangan dapat mencapai 66%. Apabila pendekatan tersebut diperkuat melalui integrasi antara lahan basah dan lahan kering, potensi surplus dapat meningkat hingga 92%. Temuan ini menjadi pesan kuat bahwa swasembada pangan di Timor-Leste memiliki dasar ilmiah yang nyata, sepanjang didukung oleh perbaikan irigasi, penggunaan varietas adaptif, penguatan sistem pascapanen, serta tata kelola produksi yang lebih baik.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya pengelolaan lahan yang cerdas dan spesifik lokasi. Di sejumlah wilayah, tim peneliti menemukan kondisi tanah masam yang memerlukan pengapuran dan penambahan bahan organik. Di wilayah lain, ditemukan tanah bereaksi lebih basa yang memerlukan perbaikan keseimbangan hara melalui pemupukan berimbang berbasis uji tanah, kompos, vermikompos, dan biochar. Pada saat yang sama, riset ini mengidentifikasi risiko erosi berat hingga sangat berat pada lereng curam, terutama di Ermera, Ainaro, dan Bobonaro. Oleh karena itu, arah pembangunan pertanian Timor-Leste perlu dibangun di atas kombinasi antara peningkatan produktivitas dan konservasi tanah serta air.
Dalam perspektif pembangunan jangka panjang, hasil riset ini juga membuka peluang besar bagi Timor-Leste untuk memperkuat agenda green economy dan blue economy. Dari sisi green economy, Timor-Leste memiliki kekuatan pada pengembangan agroforestri, rehabilitasi lahan, kopi, cendana, serta sistem pertanian yang lebih efisien dan rendah degradasi. Dari sisi blue economy, penelitian ini menegaskan pentingnya perlindungan pesisir, penguatan perikanan dan akuakultur berkelanjutan, serta pengelolaan mangrove dan sumber daya perairan sebagai bagian dari sistem pembangunan nasional yang modern, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dengan demikian, ketahanan pangan, perlindungan lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi tidak ditempatkan sebagai agenda yang terpisah, melainkan sebagai satu kerangka pembangunan yang saling menguatkan.
Salah satu capaian penting lainnya adalah teridentifikasinya 48 Suco potensial yang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai model nasional ketahanan pangan terintegrasi. Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa penetapan akhir tetap perlu dilanjutkan dengan pengkajian lebih mendalam terkait kesiapan sumber daya manusia, kelembagaan, infrastruktur, pembiayaan, dan pendampingan teknis. Secara prinsip, hasil ini menunjukkan bahwa Timor-Leste kini memiliki lokasi-lokasi prioritas yang dapat dijadikan motor awal pembangunan berbasis riset di tingkat tapak.

Sebagai bentuk konkret luaran riset, tim Universitas Udayana menyerahkan buku pedoman evaluasi kesesuaian lahan, album peta, peta-peta tematik untuk masing-masing munisípiu dan kementerian, serta data geospasial yang ke depan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi Web-GIS maupun geoportal nasional di Timor-Leste. Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada Menteri MAPPF dan Perdana Menteri Timor-Leste, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis oleh Perdana Menteri kepada para pimpinan munisípiu dan kepala dinas teknis terkait sebagai bentuk komitmen bersama terhadap implementasi hasil penelitian di lapangan.
Dalam arahannya, Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão menekankan bahwa hasil penelitian ini harus dijadikan rujukan utama oleh seluruh pimpinan wilayah dan perangkat teknis di Timor-Leste. Beliau menegaskan bahwa potensi yang telah dipetakan secara ilmiah tidak boleh berhenti sebagai dokumen, tetapi harus ditransformasikan menjadi kebijakan lokal, program nyata, dan gerakan produksi yang mampu mendorong petani, peternak, nelayan, dan masyarakat luas untuk bergerak maju secara mandiri. Pesan tersebut menegaskan pentingnya kepemimpinan daerah yang aktif, eksekusi yang disiplin, dan keberanian untuk menjadikan data sebagai dasar keputusan pembangunan.
Rangkaian kegiatan juga diwarnai dengan pertukaran cinderamata budaya antara kedua negara. Timor-Leste menyerahkan kain tais sebagai simbol identitas dan kehormatan budaya bangsa, sedangkan delegasi Universitas Udayana menyerahkan kain songket Bali sebagai simbol persahabatan, penghormatan, dan hubungan antarbangsa yang semakin erat. Momen tersebut memperkuat pesan bahwa kolaborasi akademik tidak hanya membangun ilmu pengetahuan, tetapi juga menjembatani persahabatan, saling percaya, dan kerja sama masa depan yang lebih luas.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor III Universitas Udayana, Prof. Alit Susanta Wirya, menegaskan bahwa kerja sama ini tidak seharusnya berhenti pada laporan akhir. Menurut beliau, hasil riset ini justru menjadi titik awal untuk membuka peluang kolaborasi lanjutan dalam bidang pertanian organik, smart farming, pertanian presisi berbasis data, penguatan laboratorium tanah dan air, pengembangan benih dan pakan, rehabilitasi lahan, penguatan mangrove dan akuakultur pesisir, serta sistem geospasial terpadu untuk kebijakan publik. Dalam cakupan yang lebih luas, kerja sama juga berpeluang berkembang ke sektor lain yang saling terkait, termasuk agrowisata, ekowisata, dan pengembangan ekonomi wilayah berbasis lanskap berkelanjutan.
Seminar internasional ini menjadi catatan penting dalam sejarah kerja sama antara Universitas Udayana dan Pemerintah Timor-Leste, sekaligus menegaskan kapasitas perguruan tinggi Indonesia dalam menghasilkan riset terapan yang berdampak langsung bagi kebijakan negara sahabat. Lebih dari itu, kegiatan ini memperlihatkan bahwa Timor-Leste memiliki pijakan ilmiah yang kuat untuk melangkah menuju ketahanan pangan nasional, pembangunan wilayah berbasis potensi lokal, dan posisi yang semakin percaya diri di panggung regional, termasuk dalam konteks penguatan peran Timor-Leste di kawasan ASEAN.