JIMBARAN – Universitas Udayana meresmikan kerja sama strategis dengan International Pepper Community (IPC) melalui prosesi penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Gedung Rektorat Kampus Jimbaran, Badung, Bali, pada Jumat (25/09/2026). Kerja sama ini diinisiasi guna mempertemukan kapasitas akademis perguruan tinggi dengan jaringan global industri lada dalam mengatasi berbagai tantangan pertanian modern. Penandatanganan nota kesepahaman ini memberikan dampak langsung bagi penguatan sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam mendorong riset lada berkelanjutan, respons terhadap perubahan iklim, penguatan kualitas produk, hingga pemberdayaan ekonomi petani dan pelaku UMKM lada di Bali secara nyata.

Prosesi tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Informasi, Prof. Dr. Eng. Ir. Made Sucipta, S.T., M.T., IPM, mewakili Rektor Universitas Udayana, beserta jajaran pimpinan universitas. Turut hadir secara langsung Executive Director IPC, Marina Novira Anggraini, beserta jajarannya.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Informasi Unud, Prof. Made Sucipta, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama ini dan menegaskan komitmen Universitas Udayana untuk menindaklanjuti MoU agar tidak berhenti pada seremonial semata. Wakil Rektor menyampaikan bahwa penetapan Unud sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) sejak 11 Agustus 2026 membuka ruang yang lebih fleksibel bagi Unud untuk mengomersialisasikan hasil riset dan menghilirisasi produk pertanian.
“Kami menyambut baik kerja sama ini. Unud telah banyak melakukan riset dan pengabdian dari hulu hingga hilir, namun tantangan utamanya adalah komersialisasi produk agar riset tidak hanya berhenti di laboratorium. Melalui status PTN-BH dan kolaborasi bersama IPC, kami berharap dapat menghasilkan produk lada berkualitas tinggi yang berdaya saing ekspor, memberikan dampak nyata bagi masyarakat, serta memperkuat implementasi Tridharma Perguruan Tinggi,” ujar Prof. Sucipta.
Sementara itu, Executive Director IPC, Marina Novira Anggraini, menekankan pentingnya sinergi antara dunia akademis dan industri global. “Sebuah MoU baru memiliki arti ketika ia membuka ruang bagi gagasan untuk diuji, pengetahuan untuk dipertukarkan, dan kerja sama untuk menghasilkan sesuatu yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap Marina Novira Anggraini.
Sebagai bentuk tindak lanjut pasca-penandatanganan, IPC dan Universitas Udayana langsung melangkah ke agenda kerja nyata, salah satunya dengan memberikan kesempatan bagi akademisi Unud untuk berkontribusi dalam publikasi Call for Papers jurnal internasional yang diselenggarakan oleh IPC.
Selama masa berlaku lima tahun ke depan, kerja sama ini juga diproyeksikan akan mencakup kegiatan pembelajaran dan penelitian lapangan bersama, pertukaran pakar, pelatihan, publikasi ilmiah, hingga pendampingan langsung bagi para petani dan pelaku UMKM lada di Bali.