INDONESIA EKSPOR BABI

WR I Unud, Prof. Dr. I Made Damriyasa, MS sesaat setelah menyerahkan kenang-kenangan kepada Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan-Mentan RI, drh. I Ketut Diarmita, MP (baju batik di tengah).

Kalau selama ini ramai diberitakan bahwa Indonesia mengimpor berbagai produk pangan, diantaranya daging sapi ternyata itu tidak semuanya benar.  Memang tahun 2014 sempat heboh, ketika sapi impor dari Australia sarat dengan kepentingan politik, dan diduga  ada korupsi di dalamnya.  Tahun 2017 pemerintah merekomendasi  mengimpor sapi bakalan kepada importir sebanyak 496.430 ekor untuk pemenuhan daging sapi.  Sebagian besar impor dari Australia dan Meksiko. 

Sebaliknya Indonesia justru mengekspor daging babi ke Singapura.  Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin,  yang dikutip dari Liputan6.com, Selasa (16/8/2016), secara akumulasi sepanjang Januari-Juli 2016, realisasi ekspor babi sebanyak US$30,25 juta atau lebih dari Rp 396 miliar.   Namun, perhatian pemerintah terhadap pengembangan ternak babi relatif kurang dibandingkan ternak lainnya.  Komodotitas ternak yang sudah jelas-jelas menghasilkan devisa negara seharusnya didorong perkembangannya.

Terkait dengan permasalahan tersebut,  Asosiasi Ilmuwan Ternak Babi Indonesia (AITBI) menyelenggarakan semiloka dengan tema “Pengembangan ternak babi sebagai komoditas unggulan ekpor”, yang diselenggarakan di Gedung Agrokompleks Kampus Unud, Jl.PB Sudirman  4-5 Agustus 2017.  Semiloka menghadirkan Dirjen Peternakan dan Kesehtan Hewan, drh. I Ketut Diarmita, MP sebagai keynote speaker, serta Prof. Dr. R. Iis Arifiantini, MS, (IPB), Dr. Sauland Sinaga (Unpad, Presiden Asosiasi Monogastrik Indonesia) dan DR. Davendra dari India sebagai invited speakers.

Menurut Ketua AITBI, Prof. Dr. Ir. Komang Budaarsa, MS, salah satu rekomendasi yang hasilkan dalam semiloka tersebut adalah pemerintah hendaknya segera mendirikan balai benih babi untuk mendukung pelaksanaan Kawin Suntik/Inseminasi buatan (IB) ternak babi, guna mempercepat produksi  dan memperbaiki mutu genetik  ternak babi sehingga memenuhi syarat sebagai ternak ekpor. 

Semiloka ini bekerjasama dengan Fakultas Peternakan, Fakultas Kedokteran Hewan Unud, Pt. Charoen Pokphand, PT. Perstorp serta Pusat Pengembangan Agribisnis (PPAK) Fakultas Peternakan, dikaitkan dengan ulang tahun BK Fapet dan Dies Unud ke 55.  Pada hari kedua, diisi dengan kunjungan lapang ke berbagai peternakan babi yang ada di Bangli (Bud).