Prodi Sejarah FIB Unud Gelar Seminar Nilai-nilai Kearifan dalam Konteks Sejarah Lokal di Bali

Presentasi pemakalah kunci. Dari kiri Prof Ardhana (moderator), Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, dan Dr. Amanda Katili Niode (Foto Darma Putra).

Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Nilai-nilai Kearifan dalam Konteks Sejarah Lokal di Bali” Senin, 17 April 2017 di Aula Widyasabha FIB Unud.

Seminar nasional yang dilaksanakan bekerja sama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Bali dan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini dihadiri lebih dari 200 orang.

Menurut Ketua Panitia, Prof. I Ketut Ardhana, peserta terdiri dari Kasubdid Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, anggota Masyarakat Sejarawan (MSI) cabang Bali, Kaprodi di lingkungan FIB Unud, pemerhati sejarah, budayawan, praktisi, peneliti, dosen ilmu sejarah, serta mahasiswa yang mendalami bidang sejarah.

Prof. Ardhana mengungkapkan bahwa terselenggaranya seminar ini diharapkan dapat menjadi sebuah media yang tidak hanya diklaim oleh akademisi sejarah saja.

“Pertemuan ini sangat penting dengan semakin meningkatnya kajian-kajian di bidang sejarah teturama kaitannya dengan masalah penulisan biografi, penokohan pahlawan, kerja sama  yang dilakukan oleh orang-orang sejarah dengan pemerintah daerah, dan orang-orang non-sejarah,” jelasnya.

“Akhir-akhir ini banyak karya-karya kesejarahan yang tidak ditulis oleh orang-orang yang memiliki latar belakang kesejarahan,” ujarnya.

Dekan FIB Prof. Dr. Ni Luh Ketut Sutjiati Beratha,M.A. dan Ketua Panitia Prof. Dr. Ketut Ardhana (Foto Ida Ayu Laksmita Sari).

Sehubungan dengan itu, dibentuklah organisasi Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Bali sebagai sebuah wahana untuk bertukar informasi terutama dari kalangan yang tidak mempunyai back ground sejarah. Diharapkan MSI dapat menaungi semua kegiatan-kegiatan serta edukasi yang berkaitan dengan kesejarahan.

“Seminar ini juga moment yang tepat untuk berdiskusi dan share pengalaman,” ungkap Prof Ardhana.

Memantapkan Jati Diri Bangsa

Seminar dibuka oleh Rektor Unud yang diwakili Dekan FIB Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Dalam sambutannya, Dekan FIB Unud sangat mengapresiasi diselenggarakannya seminar ini.

“Kegiatan ini menjadi sangat penting agar kita dapat mengaktuaisasi nilai budaya dalam upaya memantapkan jati diri bangsa dan merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal untuk memperkuat harkat dan martabat bangsa,” katanya.

Saat ini terdapat berbagai perubahan yang terjadi di era teknologi komunikasi dan informasi sehingga masyarakat harus memperkuat budaya lokal yang dimiliki.

Suasana pembukaan seminar.

“Jika dibiarkan akibatnya kita akan mengalami krisis budaya dan krisis identitas, karena kebudayaan adalah unsur identitas atau jati diri serta sebagai warisan budaya bangsa,” ujar Prof. Sutji.

Dekan Prof. Sutji menambahkan bahwa FIB mengembangkan ilmu-ilmu budaya melalui tiga prodi non-bahasa, yaitu Prodi Antropologi, Arkeologi, dan Ilmu Sejarah.

Dengan mengungkap isu-isu lokal yang berkaitan dengan kearifan lokal, kekuatan untuk membangun karakter masyarakat dan Bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dapat terwujud dengan baik.

Dekan berharap Seminar Nasional ini  dapat memberi pencerahan dan  bermuara pada penyatuan visi Universitas Udayana yang Unggul, Mandiri, Berbudaya, serta visi FIB Unud, yaitu keunggulan dan kemandirian dalam bidang penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat dengan aplikasi keilmuan yang berlandaskan kebudayaan.

Pemakalah Kunci dan Panel

Seminar ini menghadirkan tiga pemakalah kunci, yaitu utusan khusus Presiden bidang pengendalian perubahan iklim yang diwakili oleh Dr. Amanda Katili Niode, Kepala Subbid Sejarah Nasional Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, dan eksekutif direktur Balai Pelestarian Pusaka Indonesia Cantrini Pratihari Kubontubuh.

Sesi panel dibagi menjadi empat ruangan dengan dua tema yang berbeda, yaitu Sejarah Lokal dan Kearifan Lokal.

Panel pertama, dari kanan: I Nyoman Darma Putra, Nyoman Sukiada (moderator), I Ketut Ardhana, I Made Pageh, dan I Nyoman Wijaya

Terdapat 8 pembicara utama dengan tema Sejarah Lokal, yaitu I Ketut Ardhana (MSI-Bali) dengan judul “Sejarawan dan Sejarah Publik: Tantangan dan Peluangnya dalam Konteks Historiografi Indonesia”.

I Nyoman Darma Putra (Universitas Udayana) “Biografi sebagai Sumber Sejarah Pariwisata Bali”.

I Nyoman Wijaya (Prodi Sejarah FIB Unud sekaligus peneliti senior TSP Art and Science Writing) menyajikan makalah mengenai “Cincin Emas di Jari Manis Istri Raja: Berdiri dan Jatuhnya Kerajaan Kesatria.

I Made Pageh (Jurusan Pendidikan Sejarah FIS Undiksha) “Kajian Kritis Jejak Multikulturalisme di Pura Gambur Angalayang Kubutambahan Bali Utara”.

Beberapa biografi pelaku pariwisata dan seniman Bali sebagai sumber sejarah pariwisata

I Gusti Made Aryana (Jurusan Pendidikan Sejarah FIS Undiksha) dengan judul makalah “Pura Kuno (Pura Beji, Pura Dalem Jagaraga, dan Pura Maduwe Karang) di Bali Utara sebagai Media Pembelajaran Sejarah Lokal.”

Iwan Pranajaya, dkk (Forum Surya Majapahit) “Eksistensi Pura di Bali dan Peran Pentingnya dalam Pengungkapan Sejarah Nusantara.”

I Ngurah Suryawan (Universitas Papua) menyajikan “Belajar Menulis Papua: Sejarah (Lokal) dan Politik Identitas”.

Suroyo (STIKOM Pelita Indonesia Pekanbaru) “Sejarah Bedekeh: Pengobatan Suku Akit di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau Pada Era Global.”

Pemakalah dengan tema Kearifan Lokal, yaitu I Wayan Dibia (ISI Denpasar) dengan judul “Nyraki: Sebuah Model Pelatihan/Pembelajaran Kearifan Lokal Bali.

Enik Kriswiyanti dan I Ketut Junitha (FMIPA Unud) “Etnobotani Tanaman Kelapa (Cocos Nucifera L.) Di Bali.

I Made Agus  Gelgel Wirasuta (FMIPA Unud) “Usade Balinese Complementary Alternative Medicine”.

I Made Dira Swantara (FMIPA Unud) menyajikan makalah dengan judul “Peranan Kimia Bahan Alam dalam Mengajegkan Budaya Bali.”

I Wayan Suardiana (FIB Unud) “Menggali Akar-akar Kebudayaan Melalui Tradisi Lisan Menuju Indonesia Damai.”

A.A Gede Oka Wisnumurti dan A.A Gede Raka (Universitas Warmadewa) “Sapta Bayu: Pendekatan Hermeneutik dan Semiotik”

I Wayan Wesna Astara (Universitas Warmadewa) menyajikan materi mengenai “Politik Hukum Peran Pecalang dalam Toleransi Beragama di Desa Adat Kuta-Bali.

I Made Mardika dan A.A Rai Sita Laksmi (Universitas Warmadewa) “Menggali Nilai Kearifan Lokal Dharma Yatra Dang Hyang Nirartha di Kota Denpasar dan Kelurahan Tuban.

I Wayan Winaja (UNHI) “Revolusi Hijau Versus Dharma Pemaculan.”

Diaspora Tualaka dan Karolus Budiman Jama (Unud) “Menyibak Tirai Makna Ideologis di Balik Tradisi Le Tu Le, Instrumen Sunding Tongkeng dalam Masyarakat Etnik Manggarai.” (Ida Ayu Laksmita Sari).