TABANAN — Kolaborasi antara tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, serta petani setempat membuahkan panen perdana bawang putih lokal varietas Kayu dan Cicih di Subak Aya, Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Jumat (23/10/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 150 orang ini menjadi bagian dari upaya melestarikan varietas lokal sekaligus memperkuat kemandirian pangan Bali.
Pengembangan bawang putih lokal tersebut bertumpu pada komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antarpihak, disertai konsistensi dalam pelaksanaan serta penerapan kearifan lokal. Melalui kerja sama ini, bawang putih lokal diharapkan dapat menjadi sumber pasokan yang berkelanjutan dan turut mengurangi ketergantungan terhadap bawang putih impor.

Kegiatan ini dihadiri Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana, Dekan Fakultät Pertanian Universitas Udayana, Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura, Kepala Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Bali, serta Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Turut hadir Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Camat Penebel, Kepala Desa Babahan, Kelian Subak Aya, dan tujuh kelian tempek.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan panen perdana bawang putih lokal varietas Kayu dan Cicih. Setelah panen, acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Tim Peneliti Bawang Putih Lokal Bali, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S.; Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, S.P., M.Si., Ph.D.; serta Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada.
Dalam keterangannya, Prof. Kartini menjelaskan bahwa Kayu dan Cicih merupakan varietas bawang putih lokal Bali yang telah dibudidayakan sejak 1970-an. Pengembangan keduanya menjadi bagian dari program penelitian strategis Adaptasi dan Pengembangan Bawang Putih Lokal, yang diarahkan untuk melestarikan sumber daya genetik lokal sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah dan nasional.
Menurut Guru Besar Pertanian Organik Universitas Udayana tersebut, varietas Kayu memiliki keunggulan dari sisi kualitas, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi pada ketinggian 450–550 meter di atas permukaan laut. Varietas yang resmi dilepas pada 2022 ini memiliki bentuk umbi bulat pipih dengan semburat warna ungu. Sementara itu, varietas Cicih masih dikembangkan lebih lanjut untuk mengoptimalkan potensinya.
Prof. Kartini menyampaikan bahwa hasil pengembangan varietas Kayu di Subak Aya mencapai 8–10 ton per hektare dalam kondisi saat panen. Capaian tersebut menunjukkan potensi bawang putih lokal untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas pendukung pemenuhan kebutuhan pangan Bali.
Ia menambahkan, pada 2026 pengembangan bawang putih di Bali mencakup lahan seluas tujuh hektare yang tersebar di Kabupaten Tabanan dan Buleleng.
“Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, petani harus lebih kreatif dan inovatif dalam menggarap lahan. Bawang putih lokal adalah kekuatan pangan kita,” tegas Prof. Kartini.
Selain pemilihan varietas, penentuan waktu tanam dan pengelolaan lahan menjadi perhatian dalam pengembangan bawang putih lokal. Prof. Kartini menjelaskan bahwa kearifan lokal dalam penanggalan Bali turut menjadi acuan untuk menentukan waktu tanam. Sasih Karo, atau bulan kedua dalam penanggalan Bali, dinilai sebagai waktu yang sesuai untuk mulai menanam varietas Kayu dan Cicih, dengan tetap memperhatikan kondisi hujan dan ketersediaan air di lahan.
Dari sisi pemupukan, ia menyebut bawang putih memerlukan perhatian khusus karena memiliki sistem perakaran yang relatif pendek. Kebutuhan pupuk organik untuk satu hektare lahan disebut mencapai 15 ton. Pemanfaatan pupuk organik dan mikroorganisme hayati, termasuk mikoriza, juga menjadi bagian dari pengelolaan budidaya untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan penyerapan unsur hara.
Setelah sesi sambutan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan makan siang, penyerahan kenang-kenangan, foto bersama, dan penutupan. Panen perdana ini diharapkan menjadi pijakan untuk memperluas pengembangan bawang putih lokal Bali melalui kerja sama berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan petani.