Denpasar – Dua Guru Besar Universitas Udayana yakni Prof. Dr. rer. nat. Drs. I Made Agus Gelgel Wirasuta, Apt., M.Si. dan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. memperoleh penghargaan dari Pemerintah Provinsi Bali atas dedikasi dan kontribusinya bagi masyarakat Bali. Penganugerahan penghargaan berlangsung pada rangkaian acara puncak peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali, Jumat (14/8/2026).
Prof. I Made Agus Gelgel Wirasuta meraih penghargaan Inovasi bidang Kesehatan Tradisional Bali Usada Barak dimana penghargaan diserahkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra bertempat di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali.
Prof. Gelgel mengatakan bahwa Usada Barak terlahir karena paice ide kawitan ring pura tuluk biu dengan keahlian obat herbal yang beliau turunkan akhirnya dipadukan arak alkohol dan eucalyptus globulus sebagai pelarut campur peran aucaliptus globulus (minyak kayu putih) mampu terlahir nebul Usade
“Entah dari mana nama itu muncul. Akhirnya saya tau dari tetua pura tuluk biu ampure ngojah tanpa canang salah satu putra beliau bernama *Ki Barak* percaya atau tidak usada barak sedikit berguna saat itu di samping pimpinan Gubernur saat itu sangat intens membantu Masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan saat ini Usada Barak di kembangkan sebagai nano emulsi berkolaborasi dengan mahasiswa S3 Biomedis Fakultas Kedokteran dan berhasil menghasilkan 5 artikel ilmiah Scopus. Bekerja sama dengan industri herbal yang akan mengalirkan produk yang terdaftar BPOM dengan perkiraan nama produk barunya adalah Kinasih.
Atas dedikasi dan kontribusi ini mengantarkan Prof. Gelgel meraih Penghargaan Inovasi bidang Kesehatan Tradisional Bali dari Pemerintah Provinsi Bali. Penghargaan tersebut diberikan kepada individu, perangkat daerah, desa, desa adat, pelaku pariwisata, lembaga hingga kelompok masyarakat yang meraih prestasi di berbagai bidang dan berkontribusi terhadap pembangunan serta masyarakat Bali. Penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan pemerintah atas dedikasi para penerima sekaligus dorongan untuk terus memberikan kontribusi terbaik.
Sementara Prof. I Nyoman Darma Putra menjadi salah satu dari 20 tokoh budaya yang mendapat anugerah “Dharma Kusuma” 2026 yang diserahkan langsung Gubernur Bali, Wayan Koster bertempat di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar.
Penghargaan Dharma Kusuma adalah anugerah penghormatan dan pengakuan Pemerintah Provinsi Bali atas jasa, prestasi, dan pencapaian seniman, budayawan, ilmuwan, dan tokoh masyarakat dalam penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali. Ada berbagai jenis penghargaan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, Dharma Kusuma dikenal sebagai penghargaan tertinggi.
Tahun 2026, untuk pertama kalinya, penghargaan Dharma Kusuma diberikan kepada 20 tokoh, biasanya sekitar 5 sampai 7 orang. Prof. I Nyoman Darma Putra masuk penerima dari kategori ilmuwan.
Prof. Darma Putra berkesempatan berbagi pengalamannya saat diverifikasi oleh Tim yang berlangsung secara daring, dimana calon diminta menjelaskan karya-karya penting dan yang monumental dalam konteks penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali.
Ia menjelaskan mengajukan dua karya monumental. Pertama, dedikasinya sebagai Juri Hadiah Sastra Rancage selama lebih dari 25 tahun, untuk penilaian sastra Bali modern. Lewat penugasan sebagai juri oleh sastrawan/Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi itu, Darma secara tidak langsung ikut mendorong perkembangan sastra Bali modern. Walau tidak sesemarak kehidupan sastra Indonesia dan sastra tradisional Bali, sastra Bali modern kian eksis, dari situasi awal bagai ‘kerakap tumbuh di batu’.
Kalau dulu, penulis sastra Bali modern adalah penulis tua, usia 72 baru (seperti Made Sanggra) mendapat hadiah Rancage, belakangan anak-anak muda gemar menulis, usia 27 tahun (seperti Carmamira) sudah bisa meraih penghargaan Rancage. Setiap usai melakukan penjurian, Darma menyusun ulasan dan diterbitkan di media massa, kemudian ke dalam buku.
Kedua, Darma Putra berhasil melahirkan dan memimpin Jurnal Kajian Bali (Universitas Udayana) yang meraih indeksasi internasional bereputasi, Scopus, Q-1 (tertinggi); dan akreditasi Sinta-1 (tertinggi). Didirikan 2011, Jurnal Kajian Bali menjadi media ilmiah bagi akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk mempublikasikan hasil risetnya. Banyak mahasiswa doktor dan calon profesor yang berhasil meraih cita-citanya setelah berhasil menerbitkan karya di Jurnal Kajian Bali. Ini adalah jurnal pertama milik Universitas Udayana dan perguruan tinggi di Bali yang berhasil lolos indeksasi internasional, sebelumnya ada jurnal yang diterbitkan badan lain di luar PT yang sudah tutup. Lewat Jurnal Kajian Bali, Darma Putra bisa menempatkan nama Unud dan Bali dalam publikasi jurnal bereputasi internasional.
Dalam kesempatan terpisah Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas penghargaan yang diterima kedua Guru Besar Unud tersebut.
“Kami mengucapkan selamat dan sangat bangga atas penghargaan yang diterima oleh dua Guru Besar Unud, Prof. Darma Putra dan Prof. Gelgel, dari Pemerintah Provinsi Bali atas dedikasi di bidangnya masing-masing.”
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap capaian individu, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika Universitas Udayana untuk terus menghasilkan karya yang memberikan manfaat lebih luas.
“Semoga rekognisi ini dapat menginspirasi civitas akademika Unud untuk terus berkarya dan memberikan dampak nyata untuk kesejahteraan masyarakat, tidak hanya Bali tetapi juga Indonesia bahkan masyarakat dunia,” ujar Rektor.
Penghargaan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kontribusi sivitas akademika Universitas Udayana dapat bergerak dari ruang akademik menuju manfaat yang lebih luas.